Era Gadget Dalam Pendidikan

Foto: caraka.com

Sebenarnya pembahasan ini terbilang basi untuk dibahas dan diuraikan secara formal dalam kata kata pelantun jiwa. Hanya saja realita penggiat gagdet yang terbilang over memaksa pribadi untuk kembali membangun dialeka yang memanglah sangat basi untuk diurai lepas, bebas, dan tanpa batas.

Memang melepaskan diri dari Gadget terbilang sangat sulit untuk di nafikan. Bermesraan dengan Gadget memang telah menjadi sebuah kebutuhan primer generasi xyz di era kekinian.

Sebagaimana penulis telah uraikan pula di opini sebelumnya berjudul Demokrasi dan Peradaban Virtual (Baca). Hasilnya mengautisasi diri dengan media gadget seolah-olah bak bermesraan dengan seorang kekasih pujaan yang tentu akan nyaman dari segala stimulus dari luar yang datang menerjang.

Antipati, tentu tak mungkin. Apalagi generasi xyz memang tertuntut untuk terlibat dalam sebuah peradaban virtual yang ditawarkan oleh media gadget. Kalau pun memaksa menolak untuk terlibat dan memutuskan untuk menjadi semacam gerakan sempalan, sebagaimana meminjam istilah Gusdur dalam salah satu opininya di antologi buku Tuhan Tidak Perlu Dibela.

Tentulah akan otomatis seseorang tersebut akan tersisih dari komunitas sosial generasi xyz. Hal tersebut kalau menurut Gusdur dianggap sebagai fenomena tidak mau menerima realita perkembangan zaman, yang berakhibat memunculkan sempalan sempalan.

Mau berkata Penulis menolak ?, Tidak mungkin. Toh nyatanya penulis sebagai pihak yang terseret dalam pusaran peradaban virtual tentu juga menikmati manisnya godaan Gadget dengan media virtualnya yang begitu menggoda fasilitasnya.

Toh, penulis mencoba aktif menghidupi web sederhana ini juga  adalah berkat sebuah fasilitas Gadget. Godaannya memang bak perawan yang berjalan menawarkan pesona dihadapan pusaran kehidupan.

Sebenarnya arah tulisan ini bukan mengkritik penggiat gagdet, hanya sekedar sebuah keprihatinan akan sebuah dampak mayor dari gadget dan aneka godaannya. Bukanlah rahasia lagi bahwa Gadget memang berperan sebagai media mengkreasikan diri dengan berbagai fasilitas hiburan yang ada didalamnya.

Namanya juga media untuk memanjakan diri dengan fasilitas super mudah. tentulah pula jagat hiburan akan menjadi prioritas pilihan. 

Sebenarnya keprihatinan penulis kali  ini bukan bermakna universal. Melalinkan semata mata tertuju pada aktor utama generasi xyz sendiri. Siapa lagi kalau bukan para pelajar bangku sekolahan. 

Memang bukan hal asing lagi akan pengaruh luar biasa dari gadget kepada peserta didik. Kemanjaan akan gadget yang didukung budaya online tiap saat menang kerap membuat lalai para peserta didik akan sebuah tanggung jawab yang melekat dibenaknya.

Meski sebenarnya kejadian ini juga kerap juga menimpa peserta didik kategori mahasiswa, namun dunia pendidikan perguruan tinggi yang serba membebaskan tanggung jawab menjadi sebuah perbedaan yang besar.

Jika dalam pergaulan tinggi terbilang beriklim membebaskan tanggung jawab mahasiswa,sebut saja ingin lulus cepat, molor, dapat nilai A, atau mengulang mata kuliah, dan lain sebagainya. Maka perbedaan besar terletak pada bangku sekolahan. Dimana dalam jenjang ini peserta didik masih mendapatkan sebuah bimbingan dari sebuah stekholder pendidikan, terkhusus pihak guru dan sekolah yang menjadi aktor utama.

Masalahnya adalah terletak pada objek pendidikan di jenjang tersebut. Dimana bukan menjadi rahasia lagi serangan manja dari Gadget beserta godaan yang ditawarkan didalamnya juga kerap berimbas pada peserta didik.

Sebut saja minimnya minat mereview sebuah materi mata pelajaran. Atau pembiasaan membaca literatur. Sudah barang tentu hal semacam tersebut akan tergeser oleh budaya bermain sebuah gadget. 

Padahal sebenarnya jika mau menggunakan gadget sebagai media penunjang pengalaman pengetahuan tentu akan lebih mudah mengaksesnya. Bandingkan dengan jaman penulis saat masih berstatus pelajar tingkat newbie di daerah pelosok.

Jangankan kenal media virtual digital, buku paket materi saja terbatas dan untuk belajar harus digilir tiap pekan. Itu belum termasuk kegiatan "dikte" sebuah topik urgen dalam buku paket untuk ditulis ulang para siswa. Namun saat itu tak banyak sebuah penghalang untuk malas mereview pelajaran. Tiap ba'da Maghrib teman satu angkatan penulis laki laki perempuan berbondong bondong berkumpul dalam majlis afkar yang telah ditetapkan. 

Gambaran sekilas merefleksikan sebuah  tantangan besar bagi seorang pendidik di era milenial. Dimana memang di negeri in posisi pendidik seakan menjadi satu satunya pihak yang mengemban amanat sebagai pelaksana stekholder pendidikan.

Itutu belum termasuk  penisbatan dengan tujuan pendidikan nasional sebagai mana terdapat pada UU Sisdiknas yakni mengembangkan potensi peserta didik. Padahal sebenarnya pendidikan adalah tanggung jawab semua warga Indonesia juga tentunya.

Kembali ke perihal gadget, memang sih bukan semua pelajar yang terbuai, ada pula yang masih bisa mengatur mana jam belajar mana jam bermain gadget. Namun jika dibandingkan dengan banyaknya yang terseret zona nyaman media sakti gadget, tentu terdapat sebuah ketimpangan yang cukup besar.

Ini bukan asal hipotesis atau sengaja menarik simpulan dari penulis, karena memang tulisan ini adalah berdasarkan pengamatan penulis sebagai pendidik kategori rookie di sebuah institusi pendidikan yang berusaha menyelami segala ruang pendidikan.

Sebenarnya jika dicermati fenomena membudayanya gadget di lingkungan pelajar sebagai basis hiburan dari penatnya model pendidikan integral memang terbilang wajar. Sebagaimana perkembangan zaman dengan berbagai inovasi yang memanjakan.

Sama halnya dengan hiburan peserta didik jaman jadul seperti main petak umpet, kelereng, bermain bola, dakonan, dan permainan lainnya. Tentu permainan ini kala itu tentu pasti juga memberi efek pada tergesernya waktu mereview pelajaran.

Atau ketika masa masa menjamurnya warnet dan pusat  PlayStation. Tentu kawasan seperti itu juga pernah menjadi sebuah penghalang akan terciptanya budaya mereview pelajaran.

Banyak pula beberapa pelajar over yang memutuskan beralih jalur menuju kawasan tersebut daripada menuju lokasi sekolah. Bahkan pelajar dunia pesantren yang terkenal tradisional pun kerap kali terjerumus pada lokasi pelarian tersebut, dalam pesantren disebut dengan istilah santri "Ngoreng".

Untungnya beberapa kejadian di era lawas berkenaan hiburan pelajar sebagaimana diatas terbatas pada objek tertentu. Dalam artian godaan  hiburan yang menerjang para pelajar saat itu memang terbatas pada objek tersentu.

Akhibatnya ada setitik waktu senggang yang dapat digunakan oleh pelajar tersebut untuk fokus mereview pelajaran, berkomunikasi bergurau dengan sesama teman pelajar seputar pengalaman dan keilmuan, fokus mengembangan ilmu keagamaan, dan kegiatan membangun lainnya. 

Lain lagi dengan pelajar generasi xyz era kekinian. Pengaruh nyamannya gadget dengan berbagai hiburan permainan yang on-air tiap waktu. Pada akhirnya juga membuat paradigma beberapa kalangan pelajar ikut terdogma harus selalu on air, dalam segala peradaban virtual yang ditawarkan media sakti berupa gadget. 

Sudah barang tentu hal semacam ini akan memecah kefokusan untuk bermesraan mereview pelajaran sekolah. Hasilnya waktu senggang untuk memfokuskan diri bermesraan dengan materi pelajaran pun harus kembali merelakan digeser oleh On Air-nya hiburan yang ditawarkan Gadget sakti.

Apalagi budaya membaca literatur masyarakat Indonesia memang terkesan minim. Tentu pula hal semacam ini juga berdampak besar terhadap pengembangan peserta didik yang sarat godaan luar biasa untuk memfokuskan diri akan tanggung jawabnya.

Itu belum termasuk budaya pendidikan nasional di beberapa lembaga, yang memang masih ada beberapa yang terfokus pada nilai hasil daripada proses. Hasilnya doktrin semacam itu kerap membuat anak didik kurang percaya diri akan sebuah pengetahuan yang dimilikinya. untuk diungkapkan dalam sebuah tugas atau hak semacam. Akhirnya budaya mencontek pun kembali menjadi alternatif tradisi pendidikan oleh pelajar sendiri.

Bukan menyayangkan tindakan contekan atau "ngrepek" hasil catatan dari peserta didik. Hanya saja budaya instan serba hiburan yang ditawarkan para generasi xyz oleh media gadget, memang sedikit banyak juga mempengaruhi budaya lain yang cenderung mencari gampang.

Benak pribadi contekan peserta didik era sekarang memang terkesan tanpa pikir panjang. Alias langsung asal jiplak dari jawaban teman. 

Sangat berbeda dengan era lawas semasa penulis masih menjadi pelajar newbie, dimana hasil contekan bukan sebagai alternatif tunggal, melainkan sebagai sebuah pertimbangan atau pelengkap sebuah jawaban yang akan dikembangkan sendiri dari sebuah soal yang ditanyakan. Tentu bertujuan agar mendapatkan jawaban yang lebih mantap untuk diuraikan.

Melawan arus, mustahil mampu Istiqomah melawannya. Lambat laun tentu kondisi lingkungan sejawat akan kembali menyeret ke pusaran air. Ya memang berat, hidup di era milenial dengan keterbukaan yang membawa berbagai godaan candu  kenyamanan.

Apalagi kondisi realita masyarakat Indonesia yang umumnya memiliki gaya hidup "labil" dan narsisme akan eksistensi berlebih. Tentukah hal semacam ini akan mudah menjadi sasaran market utama para penyedia jasa hiburan virtual.

Intinya, perkembangan zaman yang memunculkan hiburan intan secara on air. Memang kerap membuat sebuah masalah bagi orang yang terlena dengan godaan yang senantiasa didapat dengan cara mudah. Parahnya kerap kali sebuah tanggung utama dari sebuah posisi  malah ikut tergerus oleh hiburan lintas waktu yang.ditawarkan gadget dengan media on air-nya. 

Disinilah seorang pendidik tidak langsung  akan terkena imbas dari berbagai ketimbangan budaya hyper dari peserta didik dalam menyikapi peradaban virtual, termasuk nihilnya pengetahuan kognitif peserta didik. Padahal sebenarnya hal semacam ini bukan semata mata pendidik yang patut di salahkan, atas kegagalan merealisasikan tujuan pendidikan berdasarkan UU Sisdiknas. 

Toh sebenarnya ada faktor penunjang lain yang menjadi sebuah stimulus yang menyebabkan peserta didik nihil akan pengetahuan kognitif mata pelajaran, sebut saja ghirah memfokuskan diri dalam mereview sebuah mata pelajaran, serangan budaya Gadget yang memangkas semua waktu belajar, atau bahkan aktualisasi yang kurang dari pihak tertentu

Kalau melihat kondisi demikian, dengan kata lain seorang pendidik tentu tertuntut harus pula untuk melibatkan peserta didik dalam merangkul media gadget sebagai salah satu sumber dan media belajar. Ntah terserah dengan model seperti apa. Tentu mengacu sebuah kompetensi yang dipapar dalam kurikulum standar nasional. 

Itu pula sebenarnya perlunya sinkronisasi komunikasi dan pelibatan berbagai stakeholder pendidikan lintas batas untuk mengatasi hal berbagai ketimpangan yang kerap melanda. Baik pendidik, peserta didik, jajaran wali murid, orang tua, lembaga sekolah, hingga unsur-unsur lain pendidikan. 



(Dibuat di warung kopi Tikung 20/03/18 pukul 06.00)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.