Kajian Al Hikam: Spesial Bulan Rajab


 Foto: Panitia Rojabiyah 2018

Kajian Al Hikam Seputar Isra' Mi'raj
oleh Yai Haji Mohammad Djamaluddin Ahmad.
(Tidak membahas Hikmah)

Edisi Rajab 2009 (Pengajian Hikam Terakhir Pribadi I Wustho asuhan Pak Muzammil)


Sedikit Penjelasan Kyai Djamal

Berkenaan dengan bulan Rajab tentu hal utama yang dinisbatkan adalah kejadian Isra' Mi'raj Rasulullah Muhammad Saw. Terkait peristiwa itu ada hal yang menarik sebagaimana disinggung Kyai Djamal. Bahwa dalam Isra' Mi'raj Nabi Muhammad bukan hanya menjelajah satu alam saja, melainkan empat alam sekaligus. Apa saja rinciannya, simak.

Pertama, adalah alam Nas'ud atau alam Mulkhi, disebut juga alam Syahadah karena bisa disaksikan dan dibuktikan dengan panca indera.

Kedua, adalah alam Jabarut, adalah alam yang berada di antara alam Nas'ud dan Alam Malakud. Alam kategori ini dalam pengertian bebas disebut alam ghaib, alias alam yang tidak bisa dilihat dengan panca indera fisikal. Namun  bisa dilihat oleh manusia yang memiliki keimanan tingkat tinggi. 

Ketiga, adalah alam Malakud, adalah alam kategori ketiga. Tempat para kumpulnya para malaikat bermunajat kepada Allah. Saat manusia berada di alam ini maka musnah sudah hal hal berkenaan dengan kesyahadaan atau kemahlukan.

Keempat, adalah alam Lakhud, alam kategori ini adalah level tertinggi dari keempat jenjang alam. Dimana di alam inilah Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Allah dan mampu menyaksikannya secara langsung, termasuk berdialek dengan-Nya.

Selain itu Kyai Djamal dalam pengajian kali ini juga menjelaskan perihal Isra' Mi'raj lain yang jarang disinggung khalayak umum. Dimana tatkala Nabi Isra' alias perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha Nabi Muhammad bertemu dengan mahluk Allah dari tiga kategori.

Pertama, adalah Arwah Mujarradah, yaitu arwah haqiqiyah alias arwah yang masih berbentuk arwah belum menyatu pada penciptaan sebuah jasat sebagai tempat. Dalam hal ini Nabi Muhammad bertemu dengan arwah Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang saat itu jarak dengan kelahirannya masih terbilang kurang 471 tahun lagi.

Bukan hanya arwah Syekh Abdul Qadir saja, Rasulullah juga menjumpai arwah Uwais Al Qarani yang akan lahir dimasa Umar Bin Khattab. Selain itu Rasulullah juga menjumpai arwah Imam Ghozali saat itu, atas permintaan Nabi Musa As yang ingin berjumpa dengan salah satu ulama dari Nabi Muhammad dimasa yang akan datang.

Berikut hikayat Arwah Mujarradah Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang dijumpai Nabi Muhammad Saw saat Isra' Mi'raj.

(Nabi Muhammad, Syekh Abdul Qadir Jailani, dan Isra Mi'raj)

Tatkala Nabi Muhammad Saw sampai dibawah Ars, beliau bertemu anak muda yang tubuhnya bersinar terangnya. Nabi Saw pun berkeinginan untuk mengetahui siapa pemuda tersebut. Hasilnya Nabi Saw pun bertanya kepada Allah SWT.

" Ya Robbi, apakah anak muda itu Nabi ?"

"Bukan", firman Allah.

"Apakah anak muda itu Rasul ?"

"Bukan, itu adalah umatmu yang hatinya senang dengan kehidupan di masjid dan berbuat bagus kepada orang tuanya", firman Allah.

Nabi pun tergugah hatinya untuk lebih dekat dengan anak muda tersebut. Segeralah beliau turun dari Ars hingga kaki beliau turun diatasi pundak si pemuda. 

" Siapa engkau gerangan ?", Tanya Nabi Muhammad Saw.

"Saya adalah Umat engkau dari keturunan Sayyidina Husain Bin Ali", jawab pemuda tersebut.

" Saya sangat senang dapat bertemu engkau. Andai nanti ada nabi lagi setelahku niscaya engkau pastilah menjadi Nabi. Dan jika memang tak ada Nabi setelahku maka engkau akan menjadi kekasih Allah SWT sekaligus menjadi kekasihku pula tentunya". 

"Kedudukanmu itu bahkan sama seperti kedudukan para Nabi", kata Nabi kembali.
Nah, menurut tafsir Muallif beberapa kitab termasuk penjelasan Kyai Djamal bahwa sosok yang dijumpai Nabi tersebut adalah arwah Syekh Abdul Qadir Al Jailani. Dimana ketik beliau lahir pada bagian pundak beliau juga terdapat rajah menyerupai pijakan kaki, yang memang pijakan kaki tersebut adalah Pijakan kaki Nabi Muhammad saat berada di alam malakut. (End)

***

Kedua, adalah Arwah Mutasarrifah. Yaitu arwah yang sudah ada jasatnya dan belum pisah pula. Arwah jenis ini yang dijumpai Rasulullah adalah arwah dari Nabi Isa As dan Nabi Idris As yang dijumpai di alam malakut karena Nabi Idris memang mempunyai sifat malaikat.

Sementara kategori manusia non nabi yang  dijumpai Nabi Muhammad dengan kondisi arwah Mutasarrifah adalah arwah Muadzin Rasul Bilal Bin Rabah yang diberi mandat menjadi muadzin di Masjidil Aqsha, ketika Nabi menjadi imam dalam shalat bersama para nabi nabi. Selain itu Nabi dljuga diperlihatkan dua arwah Mutasarrifah lain yaitu Arwah istrinya Abi Tholaihah dan Arwah Umaishah Binti Bilkhan.

Ketiga, adalah arwah Mufarriqah. Yaitu arwah dari orang orang yang memang sudah pisah jasat fisiknya alias wafat. Arwah jenis ini yang ditemui Nabi Muhammad Saw ketika Isra' Mi'raj adalah arwah para nabi. Dimana salah satu yang kerap diceritakan oleh para muallif kitab adalah arwah Nabi Musa As yang berseteru dengan Arwah Imam Ghozali. Berikut hikayat singkatnya.

( Ketika arwah Imam Ghozali berkumpul dengan Rasulullah dalam Isra' Mi'raj)

Dalam peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw  bertemu dengan arwah Mufarriqah Nabi Musa As. Saat itu Nabi Musa menegur sapa dengan Rasulullah Saw, sambil menceritakan ulama dari kalangannya Bani Israel yang memang dikenal cerdas dan gemar beribadah. 

Sebab itu pula Nabi Muhammad Saw memohon kepada Allah SWT agar diperhatikan juga salah satu ulama dari kalangan umat beliau. Tentu untuk diperhatikan juga kepada Nabi Musa As yang memang sangat ingin tahu banyak.

Seketika itu Allah SWT menghadirkan arwah seorang lelaki yang bersinar terang. Sampai sampai Nabi Musa As pun ingin menguji kompetensi sosok tersebut secara langsung.

"Siapa engkau sebenarnya ?", Tanya nabi Musa As.

" Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali At Thusi", tutur arwah umat Rasulullah tersebut.

" Itu salah, aku tanyakan hanya namamu. Engkau jawab nama bapakmu, nama kakeknya, hingga asal negaramu", bantah Nabi Musa As.

Arwah Imam Al Ghozali diam sejenak lalu giliran bertanya pada Nabi Musa As.

"Wahai Rasul, benda apa gerangan yang engkau pegang di tangan ?"

Jawab Nabi Musa As, " ini tongkat yang diberikan Allah Swt, yang mempunyai banyak kegunaan. Bisa untuk pegangan, menghalau binatang, penunjuk, dan masih banyak lagi gunanya"

" Wahai Nabi, aku hanya tanya itu benda apa. Aku tak tanya itu benda kegunaannya apa saja", tutur arwah Imam Ghozali membalik perkataan Nabi Musa As.

Mendengar perkataan arwah Imam Ghozali, Nabi Muhammad Saw pun menyetop perkataan Imam Ghozali sambil memukul punggung Imam Ghozali,  " engkau tidak punya adab pada Nabi Musa As". 

Ajaib bi Idznillah tatkala Imam Ghazali lahir di masa Abbasiyah tepat di daerah punggung bayi Imam Ghazali terdapat rajah seperti bekas sebuah pijakan tongkat.  (End)

****

Selain kisah hikayat diatasi kembali Kyai Djamal melanjutkan hikayat seputar Isra' mi'raj, dimana kali ini Rasulullah Saw akan bertemu dengan Allah di alam  Lakhud, simak.

(Ketika Rasulullah bertemu Allah SWT)

Pasca Nabi Muhammad Saw melakukan shalat berjamaah bersama arwah para nabi di Masjidil Aqsha. Kemudian Nabi Muhammad pun diantar oleh Malaikat Jibril menuju langit (Ars), dengan menaiki batu yang bernama 'Sokhro'. Langit demi langit dilewati dengan fenomena  kejadian yang bermacam macam seperti bau wewangian makam Siti Masyitoh. Tentu perjalanan itu untuk menuju Sidratul Muntaha (Arshil Istiwa').

Beberapa tabir pun ditembus oleh Nabi Muhammad Saw bersama Malaikat Jibril. Bahkan suara gerit gerit Shoriful (Shoriful) Qolam di Lauhul Mahfudz pun sampai terdengar oleh Nabi Muhammad Saw.  Hingga beberapa saat perjalanan tersebut berhenti sejenak, kemudian Malaikat Jibril pun mendadak pergi meninggalkan Nabi.

" Mengapa engkau pergi wahai Jibril ?", tanya Nabi Muhammad Saw.

" Wahai Rasulullah, diatas sana adalah alam Lakhud dimana engkau dapat bertemu dengan  Allah Swt. Saya hanyalah diberi tugas untuk mengantar engkau saja hingga ke sana. Jika saya memutuskan ikut niscaya tentu saya akan hancur lebur karena kewibawaan Allah SWT".

" Wahai Malaikat Jibril sang pembawa Wahyu. Apa engkau punya hajat kepada Allah SWT untuk aku sampaikan ?', tanya Nabi Saw.

" Ya, dulu saya ingin menolong Nabi Ibrahim As dari kobaran api"

"Lantas apa ada hajat dalam kondisi sekarang ?"

" Wahai Rasulullah, Tolong engkau sampaikan hajat saya kepada Allah SWT agar selamat dari kebencian Allah SWT dan siksa Allah SWT"

"Baiklah wahai Jibril akan aku sampaikan kepada Allah SWT"

Tak lama setelah itu Nabi Muhammad Saw pun melanjutkan perjalanan menuju alam Lakhut untuk bertemu Allah SWT.
  Sesampai disana Allah SWT pun memberikan penghormatan pada kekasihnya Rasulullah Saw.

" Wahai Tuhanku, tolong Engkau kasih sayangilah umat hamba", tutur Nabi.

Allah SWT pun berfirman, " sungguh Aku telah memberikan keanugerahan pada umat engkau Muhammad berupa delapan perkara, yang tak akan Aku berikan kepada umat terdahulu".

Adapun delapan anugerah Allah SWT yang diberikan hanya kepada umat Nabi Muhammad Saw sebagai mana firman Allah SWT dalam hikayat diatasi antara lain;

  1. sejatinya aku tidak menjadikan mahluk di bumi dan di langit kecuali Engkau dan umatmu.
  2. sesungguhnya para Nabi itu rindu kepada engkau dan umatmu.
  3. Sesungguhnya Aku tidak memberikan harta banyak kepada para umatmu sebagaimana umat terdahulu, agar kelak di hari kiamat proses Hisab dan Misannya akan cepat.
  4. Sungguh Aku tidak memberi pada umatmu kekuatan, harta, dan anak seperti umat terdahulu, supaya tidak kufur pada-Ku.
  5. Sungguh Aku tidak memberikan umur panjang kepada umatmu agar cepat bertemu dengan umatmu.
  6. Sesungguhnya Aku tidak menyiksa umatmu kecuali dosa tertentu. Menurut Kyai Djamal umatnya Nabi tidak akan disiksa berkepanjangan kecuali dua dosa diluar musyrik; Menyakiti kedua orang tua dan minum minuman keras secara terus-menerus tak mau berhenti.
  7. Sesungguhnya kelak yang akan Aku bangkitkan dari kubur adalah umat engkau, supaya tak berlama lama di kuburan.
  8. Sesungguhnya Aku tidak membuka rahasia umatmu, seperti Aku membuka rahasia umatmu terdahulu.


Lalu Nabi Muhammad Saw pun menyampaikan hajat Malaikat Jibril sebagaimana diawal. Usai itu Allah SWT pun mengabulkan hajat dari malaikat Jibril sebagaimana diawal. 

Hingga pada akhirnya Nabi Muhammad Saw beserta umat beliau  mendapatkan oleh oleh dari Allah SWT berupa Syariat Shalat lima waktu. Sebagaimana kisahnya banyak disinggung oleh literatur lain berkenaan dengan jumlah bilangan Shalat yang awalnya lebih dari lima rakaat. (End)

****
Berkenaan dengan shalat, sudah tentu hal yang utama adalah shalat berjamaah. Sebagaimana dalam kitab Kifayatuk Atqiyah bahwa; tanda tanda orang mencari ilmu karena akhirat itu selalu shalat berjamaah beserta shalat Qobliyah Ba'diyyah.

Menurut Kyai Djamal sendiri Shalat Berjamaah mempunyai enam faedah bila menjadi rutinitas; Tidak akan fakir, tidak akan disiksa kubur, akan menerina catatan amal dengan tangan kanan, melewati shiratal Mustaqim secara kilat, mendapatkan rumah bersama kalangan Nabi, Dibuatkan rumah 40 tingkat dan satu tingkat sama dengan langit bumi beserta isinya.

Sementara itu berdasarkan hak di atas kembali Kyai Djamal menyinggung soal Arwah. Bahwa arwah orang yang sempurna itu memiliki level berbeda dibandingkan arwah orang biasa. Dimana arwah tersebut mempunyai kemampuan untuk bertindak dan berbuat (Tasharufain), seperti jasat pada umumnya.

Arwah seperti ini seperti halnya arwah Sayyidina Ali bin Abu Thalib yang membantu Salman Al Farisi mengusir kawanan hewan buas yang bermaksud menyerangnya. Atau roh Imam Ghozali yang belum punya jasat namun memiliki kemampuan untuk berdebat dengan Nabi Musa As.

Arwah jenis ini juga pernah dialami sendiri oleh Kyai Djamal, dimana beliau saat masih berada di Ndalem Utara (Pondok Tengah) kerap kali diganggu oleh serangan Jin. Suatu saat Kyai Djamal didatangi oleh guru beliau Kyai Shodiq.

" Djamal, engkau sedang susah ?", Tanya Kyai Shodiq.

" Ya"

"Kalau sudah jangan bilang-bilang, barusan Kyai Abdul Djalil Mustaqim datang kepadaku supaya mendatangi engkau"

Kedatangan Kyai Shodiq ke Kyai Djamal sambil membawa cangkir berisi madu dan menyuruh Kyai Djamal untuk membacakan Al Qur'an dan meminumnya. 

Setelah membaca Al Qur'an khatam anehnya sosok Kyai Shodiq hilang ntah kemana namun cangkirnya masih ada. Sudah barang tentu yang hadir ke hadapan Kyai Djamal tersebut bukanlah jasat Kyai Shodiq melainkan arwah Kyai Shodiq. 

Disisi lain Kyai Djalil yang mendatangi Kyai Shodiq kemungkinan besar juga hanyalah arwahnya saja, dalam tasawuf arwah seperti ini disebut lathifah.

Hal ini diperkuat dengan kejadian di pesantren PETA Tulungagung dimana beberapa kali Kyai Djalil kerap membangunkan santri beliau untuk shalat malam. uniknya sang santri hanya dibangunkan kyai Djalil Mustaqim melalui sebuah mimpi, yang juga menyuruh si santri menjadi imam dalam sholat tersebut. 

Sudah tentu mimpi tersebut bukan mimpi biasa, melainkan ada campur tangan sebuah arwah lathifah yang menyusup ke dalam sebuah alam bawah sadar seseorang, untuk membuat sebuah tindakan pesan.

Kembali Kyai Djamaluddin Ahmad menceritakan sebuah hikayat pengamalan tentang arwah lathifah sang guru Kyai Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung. Kala itu Kyai Djamal yang juga nyantri di pesantren PETA kenal dekat dengan seorang teman asal bawean, namanya Pak Subhan yang juga sudah beristri namun sudah lama tak pulang ke bawean.

" Kang, Sampean mengapa tidak pulang ke Bawean hingga meninggakkan istri selama tiga tahun ?", tanya Kyai Djamal saat itu.

" Di Bawean banyak tukang sihir usil. Suatu saat sewaktu saya ditengah laut, perahu saya disihir olehnya hingga putus. Akhibatnya saya pun hampir saja tenggelam ke laut. Tiba tiba muncul seorang pemuda berjalan di atas air dan membantu menyambung kembali perahu saya yang putus. Saya tanya siapa nama engkau. Ternyata ia mengaku bernama Abdul Djalil Mustaqim. Sejak saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mencari beliau dan mengabdi sebagai murid. Saya tidak akan pulang selagi belum di suruh untuk pulang oleh beliau".
(End)

****

Hal lain yang perlu penulis Jabarkan kali ini adalah Hikayat Hikayat Lain yang disampaikan oleh Kyai Djamaluddin Ahmad saat pengajian pada hari tulisan ini diresume.

( Cahaya Rasulullah) 

Berkaitan dengan Rasulullah Muhammad Saw, terdapat hal unik sebagai penegasan kemukjizatan beliau. Dimana saat siang hari berjalan Nabi Muhammad Saw tak mengeluarkan bayangan efek sinar matahari.

Sedang saat malam hari tubuh Nabi Muhammad Saw mampu mengeluarkan cahaya terang, sehingga tak membutuhkan sebuah penerangan malam. Hal ini karena jisim beliau terbuat dari Nur yang bernama Nur Muhammad.

Pernah Suatu malam dimana Siti Aisyah sedang menjahit.  kemudian tatkala jarum jahit Siti Aisyah jatuh ke tanah, Siti Aisyah pun tak mampu menemukan dimana jarum tersebut berada. Hal ini wajar karena keadaan sangatlah gelap saat itu. 

Tiba tiba datanglah Rasulullah Saw ke hadapan Siti Aisyah. Ajaibnya seketika itu daerah sekitar Rasulullah terlihat terang, efek sinar yang muncul dari tubuh beliau. Hasilnya Siti Aisyah pun berhasil menemukan jarum yang jatuh tersebut. (End)

(Bilal Bin Rabah dan Surganya)

Suatu saat Nabi bertanya pada Bilal Bin Rabah. Terkait apa yang menyebabkan Nabi mendengar suara gesekan sandal Bilal saat berada di Surga waktu Isra' Mi'raj.

" Ya Bilal, ceritakan padaku. Amal apa yang kau lakukan sehingga di surga aku mendengar suara sandal engkau bergesekan ?"

" Tidak ada Ya Nabi, saya hanya menjaga suci setelah itu mengerjakan shalat Sunnah dua rakaat"

Sementara dalam sumber lain dikatakan hak yang berbeda.

Nabi bertanya, " Bilal, mengapa engkau mendahuluiku di surga. Hingga aku mendengar suaramu di surga ?"

"Wahai Rasulullah, setiap adzab saya berwudhu dan melakukan shalat Sunnah dua Rakaat"( End)


(Istri Abu Tholaihah Sang Pencinta Ilmu)

Sewaktu Nabi Isra' Mi'raj, Nabi Muhammad bertemu berbagai jenis arwah kalangan non Nabi. Seperti, Syekh Abdul Qadir Al Jailani, Imam Al Ghazali, Bilal Bin Rabah, hingga Istri Abu Tholaihah. 

Nah, yang terakhir inilah yang disinggung dalam hikayat kaki ini. Dimana sewaktu mendengar suara istrinya Abu Tholaihah disurga, Beliau Rasulullah Saw pun bertanya kepada Allah SWT. 

" Ya Robb, mengapa (arwah) istri  Abu Tholaihah dlbisa berada di surga ?"

" Karena Suka pada ilmu"

Wajar saja, Karena dalam suatu kesempatan. Istri Abu Tholaihah memang dikenal sangat ingin tahu pada sebuah keilmuan. Bahkan Suatu ketika wanita tersebut berkunjung pada Nabi, guna bertanya pada Nabi terkait masalah jika ada seorang laki-laki keluar mani apa yang harus dilakukan.

" Wajib Mandi besar", jawab Nabi.

Nah, keberanian Istri Abu Tholaihah pada sebuah kebenaran suatu ilmu pengetahuan inilah yang membuat derajatnya diangkat oleh Allah SWT.
(End)



Catatan :

Dimana tulisan asli sebenarnya dibuat pada:

Tanggal : 22 Juni 2009
Tempat : PP. BD Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Sumber Pengampu : KH. Moh. Djamaluddin Ahmad
Peresume : Rizal Nanda Maghfiroh

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.