Kajian Al Hikam, Munajat Ibnu Atto'illah kedelapan (Tingkatan Tawakal)

Sumber: facebook
Surat Kyai Djamal Rojabiyah 2018

Dan Bagaimana aku akan menyampaikan kepada-Mu keadaanku, padahal tidak tersembunyi daripada-Mu"
 (Munajat ke 8-C Ibnu Attoillah)


Sedikit Penjelasan Kyai Djamal

Dalam pengajian pertemuan lalu bahwa salah satu Wasilah kepada Allah adalah dengan menampakkan kehinaan, kefakiran, dan kelemahan insan. Nah, pada hikmah kali ini adalah sebuah pelengkap dalam penjelasan hikmah sebelumnya oleh Romo Yai Djamal.

Terkait tata cara meminta sesuatu pada Allah menurut ahli sufi itu tidak perlu melaporkan sebuah permohonan kita. Melainkan pikirkan dosa dosa beserta kesalahan yang telah kita lakukan.

Ada hal lain berkaitan kesalahan sebagimana mengutip pernyataan Kyai Djamal. Dikatakan bahwa Nabi Saw pernah bersabda, " Orang yang suka menghina orang mukmin maka ia tidak akan mati sebelum dia menerima hal seperti yang ia lakukan".

Bukan hanya itu, lanjut Kyai Djamal mengutarakan dawuhnya bahwa penduduk bumi ini asalnya semuanya diberikan barokah oleh Allah SWT. Mengapa kini justru banyak bencana yang datang menerpa ?. Hal tersebut terjadi karena kerap diantara Nikita merubah sikap, dari benar menjadi salah kalau sudah kembali ke jalan benar niscaya Allah akan kembali memberikan barokah kepada kita semua.

Berkaitan dengan permohonan tentu hal urgen adalah perilaku tawakal (pasrah). Nah, menurut penjelasan Kyai Djamal dikatakan bahwa Tawakal sendiri ada empat tingkatan, sebagaimana berikut.

Pertama, adalah Tawakkal Al 'ammah. Artinya melakukan usaha secara maksimal dan menyerahkan keberhasilannya kepada Allah SWT. Tawakkal ini umumnya berlaku pada tingkatan orang awam pada umumnya.

Ada sebuah hikayat dari Kyai Djamal terkait Tawakkal jenis ini, simak.

(Patroli Kholifah Umar Bin Khattab)

Ketika Sayyidina Umar Bin Khattab menjadi Khalifah. Beliau gemar berpatroli sambil menyamar menjadi orang awam agar tidak ketahuan serta dapat mengorek kinerjanya secara langsung. Suatu malam tatkala berpatroli beliau melihat orang miskin yang tak punya apa apa. 

Lebih parah lagi, orang tuanya membujuk sang anak perihal memasak nasi, padahal yang dimasak adalah batu. Itu semua semata mata agar si anak tak teralih kesedihannya.

Melihat tingkah laku keluarga tersebut, Sayyidina Umar pun tergugah hatinya untuk membantu kebutuhan mereka. 

Oleh sayyidina Umar diambilah sekarung tepung dan dipikulnya sendiri hingga beliau letakkan didepan rumah keluarga miskin tersebut.

Setelah melihat perilaku keluarga tersebut yang sangat tawakal. sayyidina Umar pun berpesan kepada para sahabat, " sesungguhnya orang yang Tawakkal adalah orang yang meletakkan biji tanaman didalam tanah, kemudian pasrah menyerahkan diri kepada Allah SWT. (End)

Kedua, adalah Tawakkal Al khossoh. Maksudnya tingkatan ini adalah meninggalkan usaha usaha yang dilakukan, semata mata percaya sepenuhnya pada Allah SWT. 

Tingkatan ini bukan tingkatan orang awam, melainkan biasa dilakukan oleh beberapa ulama sufi. Dalam tingkatan ini seseorang tidak perlu melakukan pekerjaan, tetapi langsung mendapat barokah dari Allah SWT.

Namun sebenarnya dalam tingkatan ini, meskipun seseorang tidak melakukan usaha perbuatan untuk mencapai apa yang diinginkan. Namun orang dalam tingkatan ini masih perlu melakukan tindakan permunajatan kepada Allah terkait apa yang diinginkannya.

Ketiga adalah Taslim, artinya merasa tenang pada pengertian Allah SWT. Maksudnya orang jenis ini tidak perlu melakukan sebuah usaha untuk mewujudkan keinginan, atau bahkan tidak perlu pula untuk bermunajat mengutarakan keinginannya pada Allah.

Seseorang dalam tingkatan ini seluruhnya pasrah mutlak, mengerti bahwa Allah itu sangat pengertian kepada para hamba-Nya. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As ketika dibakar oleh raja Namrud.

Ketika itu Nabi Ibrahim bahkan ditawari malaikat terkait bantuan memadamkan api yang membara. Namun Nabi Ibrahim malah menolak tawaran malaikat. Semata mata beliau pasrah seluruhnya pada keputusan Allah yang maha pengertian pada mahkuk-Nya.

Keempat adalah Tafsir, artinya semata mata pasrah dan rela kepada kehendak Allah. Tingkatan ini juga seperti halnya kisah Nabi Ibrahim yang dibakar. Nabi Ibrahim bukan hanya merasa tenang perihal Allah yang pasti memberikan pengertian. Namun juga semata mata merelakan diri terhadap keputusan Allah.

Untuk lebih jelasnya terkait hikayat nabi Ibrahim As versi Kyai Djamaluddin Ahmad, simak.

(Nabi Ibrahim dan Jati Dirinya)

Nabi Ibrahim As jika dihitung nasab hingga muasal Nabi Adam As, maka diketahui bahwa Nabi Ibrahim masalah keturunan ke dua puluh. Perinciannya sebagai berikut; Adam - Syis - Anwas - Qinan - Mahlail - Yahdiyah - Ukhnukh (Idris) - Mutawaslikh - Lamik - Nuh - Sam - Fakhsyad - Salikh - Qinan - Abil (Ibad) - Faligh (Falikh) - Qulhu - Syarlu - Nakhlu - Tarokh - Ibrahim.

Nabi Ibrahim dilahirkan dimasa Raja Namrud, ini menurut kitab Al Ashois. Ayah nabi Ibrahim menurut tafsir bebas yang tersebar bernama Azar. Akan tetapi beberapa kitab ternama menyebut nama Tarokh sebagai ayah beliau. Imam Jahid bahkan menyebut nama Azar sebenarnya adalah nama patung yang dibuat.

Dimasa nabi Ibrahim, raja Namrud memang dikenal mempunyai beberapa penyihir yang sakti mandraguna. Suatu saat Raja Namrud mimpi bertemu bintang bintang yang terang, mengalahkan terangnya matahari dan rembulan.

Karena merasa khawatir akan mimpi tersebut, Namrud pun memutuskan untuk bertanya noada penyihir kepercayaannya. Penyihir pun memberikan penjelasan bahwa kelak akan ada pemuda yang akan mengalahkan dan menggulingkan sang raja (Namrud).

Mendengar penjelasan penyihir, ia pun ketakutan bukan kepalang. Diambil agar kebijakan kontroversial yang melarang laki laki untuk berhubungan intim dengan istrinya sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Suatu ketika istri seorang bernama Tarokh hamil. Karena takut kehamilannya akan diketahui pasukan Namrud, apalagi jika anaknya Laki laki. Maka ia pun melarikan diri ke sebuah goa, disana pula wanita tersebut melahirkan bayi laki-laki yang tidak lain adalah bayi nabi  Ibrahim.

Karena agar tidak timbul kecurigaan dari para warga. Wanita tersebut pun kembali ke kampung halaman, meninggalkan Ibrahim kecil di dalam Goa sendirian.

Suatu saat dimana tatkala sang ibu beserta suaminya  bermaksud menjenguk Ibrahim kecil, karena khawatir bayinya memang sudah tiada. Anehnya kejadian luar biasa terjadi, saat ia masuk ke dalam goa Ibrahim kecil pun masih hidup bahkan tampak sehat sehat saja. 

Bahkan pertumbuhannya Ibrahim kecil  sangat cepat. Hal yang lebih ajaib adalah dimana Ibrahim kecil dapat bertahan hidup berkat menghisap jari jarinya sendiri. Yang mana dari jari jari Ibrahim kecil mampu mengeluarkan air, susu, madu, bahkan minyak Samin.

Sang ibunda malah lebih bingung lagi tatkala Ibrahim kecil sudah mampu berbicara lancar. Bahkan mengutarakan pertanyaan unik.

 " Ibu, Tuhanku siapa ?"

" Ibu "

"Tuhan ibu siapa ?"

" Ayahmu "

"Tuhan ayah siapa ?"

"Namrud"

"Tuhan Namrud siapa ?"

Nah, kali ini sang ibu pun diam tanpa kata. Tak tahu menahu harus jawab bagaimana akan pertanyaan yang tak ada ujungnya.

Suatu saat sang ibu pun memberi tahu suaminya perihal keanehan sikap berujung pertanyaan dari sang anak. Sang ayah pun memutuskan untuk menemui Ibrahim. Tiba tiba Ibrahim pun kembali bertanya pada ayahnya, persis seperti apa yang ditanyakan pada ibundanya. Karena berujung tak mampu menjawab sesampai perihal tuhan Namrud, maka ditamparlah pipi Ibrahim boleh ayahnya.

Hingga suatu ketika tatkala Nabi Ibrahim bertambah semakin dewasa, suami istri tersebut pun membawa Ibrahim keluar dari goa. Tatkala berada di luar Goa, Ibrahim kembali mengutarakan pertanyaan filosofisnya kepada ayahnya. 

" Pak, itu apa ?", Kata Ibrahim menunjuk pada suatu jawaban hewan.

" Itu unta, sapi, kambing"

" Siapakah tuhannya ?"

Mendengar pertanyaan sang anak, Tarokh pun tersentak hatinya untuk mencari kebenaran Tuhannya. Untuk mencari kebenaran aqidah yang benar. Hingga suatu malam Tarokh melihat bintang bintang, hingga ia berfikir bahwa bintang yang dilihatnya adalah Tuhannya. Tapi seketika itu sinar bintang bercahaya hilang tertutup awan malam. Seketika itu pula ia sadar bahwa bintang bercahaya bukanlah Tuhannya. 

Saat melihat rembulan muncul dengan menawan. Tarokh pun kembali berfikir bahwa rembulan adalah Tuhannya. Saat bulan tertutup awan dan menghilang kembali ia sadar bahwa bulan bukanlah Tuhan. Pada pagi harinya Tarokh menganggap matahari adalah tuhan. Namun anggapan itu hilang Ketika ia menyaksikan sendiri hilangnya matahari kala senja menyapa.

Karena setres bingung tentang pencarian tuhan, maka Tarokh pun membuat patung yang diberi nama Azar. Lalu menjadikan patung tersebut sebagai penggambaran tuhannya. Termasuk pula menyuruh Nabi Ibrahim untuk menjual patung tersebut ke pasar.

" Ya Kaum, siapa yang ingin membeli barang tak berguna ini ", kata Ibrahim menawarkan patung buatan ayahnya.

Hasilnya tak khayal sampai sore hari menyapa tak ada sebuah patung pun yang mampu terjual. Hingga sampailah Nabi Ibrahim ke sebuah tepian sungai, lalu ditepian sungai itu pula Ibrahim menjumpai sebuah patung sesembahan. Seketika itu beliau menghancurkan patung tersebut lalu mencelupkan kepala patung tersebut ke sungai. 

"minumlah air sungai ini", bentak Ibrahim.

Peristiwa itu pun membuat nama Ibrahim melambung ke perbincangan kalangan masyarakat. Puncaknya Nabi Ibrahim pun kerap diundang ke berbagai acara debat ketauhidan, semuanya pun dilahap Ibrahim dengan kemenangan. 

Semenjak saat itu pula Nabi Ibrahim pun berani mengajak ayahnya ke ajaran yang diikutinya. Namun sang ayah masih belum di bukakan Allah terkait kesadaran ketauhidan, meski sebenarnya ia juga sedikit mempunyai keinginan untuk menjajaki ajakan Nabi Ibrahim.

Keberanian Nabi Ibrahim pada akhirnya sampai ke telinga Raja Namrud. Hingga suatu ketika Namrud pun memanggil Ibrahim  ke istana.

" Ibrahim, coba ceritakan tuhanmu yang kau Anging agungkan", kata Namrud.

" Tuhanku adalah yang dapat menghidupkan dan mematikan"

" Aku juga bisa seperti tuhanmu. Seseorang yang ku lindungi dapat ku jaga hidupnya sedang yang berontak khianat bisa ku habisi nyawanya "

" Apa ada lagi keunggulan tuhanmu", tanya Namrud sekali lagi.

" Tuhanku adalah yang dapat menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkan ke arah barat ", jawab Ibrahim.

Kali ini Namrud pun diam tak bicara, bingung harus membalas dengan kata apa. Karena merasa malu akhirnya Namrud pun menyuruh Ibrahim keluar Istana. Hingga suatu hari datang peristiwa lain perihal Nabi Ibrahim vs Raja Namrud.

Diceritakan oleh Imam Suyuthi bahwa kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim adalah peristiwa karnaval. Suatu ketika Raja Namrud memang mengadakan karnaval ke sebuah hutan yang diikuti hampir seluruh lapisan masyarakat. 

Sebelum berpergian menuju lokasi karnaval yang disiapkan di hutan, Raja  Namrud beserta para pengikutnya terlebih dahulu melakukan sesaji ke sebuah kuil persembahan yang terdapat banyak patung patung.

Nabi Ibrahim pun termasuk yang diajak ayahnya untuk ikut karnaval. Namun  Ibrahim beralasan sakit sehingga urung ikut karnaval. Setelah semuanya pergi Nabi Ibrahim melancarkan aksinya menuju sebuah kuil persembahan Namrud cs.

Didalam kuil Nabi Ibrahim pun menghancurkan patung patung yang terdapat di kuil. Hampir semua patung kehilangan kepalanya atas ayunan kapak Nabi Ibrahim. Hanya sebuah patung besar yang disisakan tak ikut dihancurkan. Oleh Nabi Ibrahim patung tersebut dikalungi sebuah kapak miliknya. 

Ketika raja Namrud beserta para pengikutnya kembali dari karnaval. Mereka dikejutkan dengan kondisi yang terjadi di kuil. 

"Siapa yang berani menghancurkan patung patung ?", Bentak Namrud marah.

" Mungkin Ibrahim, karena hanya dialah yang tak ikut ke karnaval", kata salah satu mereka.

Segeralah dipanggil Nabi Ibrahim ke hadapan Raja Namrud.

"Siapa yang berani melakukan kerusakan pada hal semacam ini ?", Bentak Namrud pada Nabi Ibrahim.

" Tanyakan saja pada patung yang terbesar itu, yang membawa kapak. Mungkin saja ia marah melihat para patung patung kecil ikut memakan sesajen sesembahan", kata Nabi Ibrahim.

"Tak mungkin patung itu melakukan hal tersebut. Aku tak pernah melihat kejadian semacam itu"

" Kalau patung itu tuhanmu jelas ia tahu siapa pelakunya."

Mendengar serangan kata kata Nabi Ibrahim, raja Namrud pun geram bukan kepalang. 

"Bakar saja Ibrahim", kata salah satu mereka.

" Ya, ia pantas dibakar. Setelah kalian siapkan perapian dengan kayu bakar yang menyala", perintah Namrud.

Bahan bakar perapian tersebut pun dipanaskan dahulu selama seminggu agar luar biasa panasnya. Hingga tiba saatnya hari dimana Ibrahim akan dieksekusi.

" Bagaimana cara kita memasukkan Ibrahim ke dalam api yang menyala. Tepat di bagian tengah perapian agar Ibrahim hangus terbakar", kata salah satu mereka.

Seketika itu muncul syetan yang menyamar menjadi kalangan mereka. " Raja, sebaiknya anda buat sebuah alat pelontar untuk melemparkan Ibrahim tetap ke tengah perapian", kata syetan.

Raja Namrud pun mengiyakan usulan pemuda tersebut yang sebenarnya merupakan syetan. Hingga Nabi Ibrahim dapat dimasukkan  tepat ke dalam api yang membara.

Tatkala didalam Api, Nabi Ibrahim diberi tawaran oleh malaikat agar api tersebut dipadamkan. Malaikat pengatur api berkata, " Ya kholiyullah tolong izinkan hamba untuk mematikan api tersebut". 

Begitu juga dengan malaikat pengatur air yang berkata, " Ya Kholiyullah izinkan hamba menurunkan air dari langit hingga padamkan api yang membakarmu".

Sedang malaikat pengatur angin pun ikut memohon pula, " Ya Kholiyullah, tolong izinkan hamba untuk menuiupkan angin kencang untuk memadamkan api yang berkobar tersebut".

"Tidak", kata nabi Ibrahim menolak segala tawaran.

" Ya Nabi, mengapa engkau menolak tawaran para malaikat ?", tanya Malaikat Jibril yang juga hadir.

"Aku hanya meminta sesuatu pada Allah "

"Lantas mengapa engkau tak segera meminta hal tersebut pada Allah sekarang ? ",  tanya Jibril sekali lagi.

" Tak perlulah aku bermunajat. Allah SWT pasti mengerti hal yang terbaik bagi keadaan hambanya", jawab Nabi Ibrahim.

Seketika itu pula Allah SWT menyuruh api agar tidak panas dan membakar tubuh Nabi Ibrahim. Saat api padam , ternyata Nabi Ibrahim masih hidup. Tak ada luka bakar sama sekali, justru tubuh beliau bercahaya dengan terangnya. Api yang membakar tubuh Ibrahim bak air yang membersihkan tubuh Nabi Ibrahim.

Semua yang menyaksikan pun heran bukan kepalang akan kejadian tersebut. Beberapa orang pun tak sedikit yang sudah perlahan percaya akan ketauhidan Nabi Ibrahim yang dapat menyelamatkan. Termasuk sang ayah Tarokh beserta istrinya pula. (End)


Catatan:
Dimana tulisan asli sebenarnya dibuat pada:

Tanggal : 19 April  2010
Tempat : PP. Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Sumber Pengampu : KH. Moh. Djamaluddin Ahmad
Peresume : Rizal Nanda Maghfiroh

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.