United, Mourinho, dan Identitasnya


Tahun lalu Mourinho si spesial one bolehlah unjuk gigi, membusungkan dada dengan jacket hitam berlogo setan merah. Dimusim pertama saja pria asal Portugal tersebut mampu mempersembahkan treble winner mini (Capital League, Community Shield, Europa League) teruntuk pasukan teater of dream. Meski finis di luar empat besar tapi berkat mengkandaskan Ajax Amsterdam di Final Europa League, United berhak lolos otomatis ke Champions League musim 2017-2018, penebusan dosa musim sebelumnya di era Van Gaal.

Tapi itu musim lalu, musim ini lain lagi ceritanya. Liga Inggris sudah hampir pasti direngkuh tetangga sendiri yang kerap dianggap sebagai tetangga berisik. Guardiola cs  juga telah merebut tropi piala liga Inggris yang direngkuh Mou musim lalu.

Bahkan perjuangan Mou bersama United mengulang cerita manis 2008 di UCL pun harus kembali kandas di babak knock-out usai tadi malam tim besutan Mou dipaksa takluk Sevilla 1-2 dikandang atas lesakan brace Wissam Ben Yedder di menit tujuh puluhan.

Padahal  di  leg pertama  United mampu menahan imbang Sevilla 0-0 di Ramon Sanchez berkat penampilan ciamik De Gea dibawah mistar. Praktis hanya FA Cup saja harapan Mou untuk kembali membuktikan kredibilitasnya sebagai pelatih jempolan dalam menukangi tim legendaris Manchester United.

Apalagi ekspektasi sang "juragan" Glazer terhadap United dalam beberapa tahun terakhir pasca pensiunnya Sir Alex Ferguson memang terbilang tinggi. Gagal memberikan uforia pecat, ganti, depak. Persis seperti nasip dua pendahulunya; Moyes dan Van Gall.

Memang sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa Mou memang kerap memainkan pola permainan prakmatis. Dalam  artian lebih berpatokan pada hasil akhir daripada mengutamakan proses mencapai hasil itu. Presing ketat lewat strategi "parkir bus" dan melontarkan counter attack saat tim lawan lengah adalah spesialis Mou bersama setan merah. Persis seperti yang ia lakukan  saat antarkan inter milan kampiun UCL 2010 dengan mengandalkan Barcelona dan Bayern Munich dengan strategi setup. Tak khayal permainan Mou demikian kerap banyak dikritik para pengamat, alumnus bola, hingga fans penikmat bebas. 

Di United Mou dianggap membuat tradisi dalam tradisi. Artinya lewat tangan Mou yang dianggap bertangan jenius usai mampu mengantarkan dua tim berbeda menjadi kampiun UCL, pada akhirnya seakan merusak budaya identitas tim Manchester United yang sudah perlahan memudar sejak pensiunnya Opah Fergie.

Lihat saja tradisi United sebagai pencetak bibit wonderkid potensial dimasa Ferguson. Atau permainan atraktif serangan cepat dari  sisi sayap dan passing ciamik  lini tengah yang terus terusan dilakukan sepanjang laga. Dua hal tersebut memang dulu menjadi identitas tim sekelas United, sama halnya dengan Barcelona dengan identitas tiki takanya atau Arsenal di awal millenial sebagai pencetak pemain berbakat semacam; Thiery Henry, Cess Fabregas, hingga Robin Van Persie.

Dari segi komposisi memang ada beberapa pemain muda potensial di skuad United asuhan Mou. Sebut saja duo Inggris  Marcus Rasford dan Jesse Lingard hingga wonderkid Perancis Anthony Martial. Tapi tunggu dulu nama-nama tersebut bukanlah produk asli Mou melainkan dari pelatih sebelumnya.  sebaliknya Mou lah yang memermak potensi pemain muda tersebut, tentu dengan sentuhan idealisme permainan seorang Jose Mourinho.

Bukti Idealisme lain seorang Jose Mourinho adalah ia tak segan segan memakai  "hak vetonya" sebagai seorang pelatih. Contoh simpel saja terlihat pada nama-nama baru yang didatangkan ke Old Trafford semacam Nemanja Matic dan Romero Lukaku yang mengorbankan sang legenda Wayne Rooney. Terlepas dari kebutuhan posisi yang ditempati, tentu transfer Mou lebih berkutat pada usaha Mou untuk membuat sebuah identitas baru dalam permainan Manchester United berdasarkan idealisme dirinya semata.

Apalagi dua nama tersebut adalah bekas anak asuhnya semasa menukangi  tim London biru.  memang demikian bahwa Mou lah yang hanya bergelar The Spesial One, bukan The Choice One seperti yang melekat pada David Moyes.

Itu belum termasuk pembahasan kedatangan Alexis Sanchez dari Arsenal yang mengorbankan Hendrick Myikhitarian. Padahal kontribusi Mikhitarian dilini tengah terbilang tak buruk amat. Bahkan terbilang lebih baik dibanding kontribusinya di musim perdana. Selain faktor lain yang melekat dalam diri Mikhitarian  sebagai salah satu pemain yang memiliki kejeniusan tinggi. Bukan hanya berkenaan seputar internal pertandingan namun juga menyangkut keintelektuakan secara umum.

Jika tak didepak mungkin saja kejeniusan Mikhitarian dapat digunakan untuk memunculkan ide brilian mengembangkan permainan United. Atau memotivasi para pemain tatkala terjerumus masuk ke goa. Tapi tampaknya Mou memang tak menginginkan idealisme lain diluar dirinya sendiri. Mungkin ini termasuk pula didepannya sang legenda United  Wayne Rooney.

Terlepas dari Mikhitarian, mengapa sosok yang didatangkan adalah seorang Alexis Sanchez. Bukan meragukan treck record Sancez, namun jika dilihat dari statistik permainan terakhir Sanchez bersama Arsenal tentu terdapat ketimpangan yang cukup besar. 

Penulis menilai ada benarnya komentar seorang jurnalis bola Skotlandia Chris Sutton sebagaimana dalam daily mail (13/03/18). Dimana pria yang juga eks Blackburn tersebut terang terangan mempertanyakan kredibilitas Mou memilih Sanchez sebagai sasaran transfer daripada pemain serba bisa Tottenham asal Korea Selatan Son Heung Min. 

Menurutnya statistik hingga jeda paruh musim EPL,  pemain terbaik Asia 2017  tersebut memang lebih menjanjikan daripada Sanchez yang terbilang tak begitu moncer golnya di Arsenal. Selain faktor posisi Son yang memang lebih fleksibel daripada Sanchez ketika dimainkan Mauricio Pochettino dalam tiap laga.

Hemat penulis memang sejak kehilangan Fergie identitas United perlahan ikut memudar bersama nama besar legenda Skotlandia tersebut. Selain faktor kurang intensifnya penjajakan sebuah geliat transfer pemain.

Di era Fergie pendekatan kepada pemain incaran memang sangat intensif sekali. Lihat saja upaya Fergie mendatangkan seorang wonderkid Javier Hernandez dari Guadalajara di tahun 2010. Bahkan upaya itu dilakukannya sebelum ajang  Piala Dunia 2010 Afrika Selatan berlangsung. Atau upaya mendatangkan seorang Shinji Kagawa dimana Fergie merelakan diri bolak balik Dortmund untuk menjalin hubungan intensif kepada yang bersangkutan.

Itu belum termasuk kebijakan internal Fergie bersama asistennya Mike Phelan sejak 2008 yang sangat ketat dalam terjun ke dalam geliat perburuan pemain incaran. Salah satu hal menarik dari mereka mereka adalah kebijakan melarang klub untuk melakukan transfer pemain yang sudah berusia sekitar 28 tahun. Tentu hal ini bertujuan untuk  menghidupi  Manchester united akan identitas lama sebagai klub yang mengorbitkan pemain muda potensial.

 Meski pada akhirnya kebijakan ini juga beberapa kali dilanggar seperti mendatangkan Robin Van Persie dari Arsenal, yang mana saat itu memang Fergie sendiri yang memberi usulan. Toh kebijakan itu berbalas dengan keberhasilan United meraih trofi EPL, dan Persie sendiri dinobatkan sebagai top skor EPL kala itu.

Tapi yah sudahlah, nikmati saja dramanya. Drama dari identitas baru Manchester United era Jose Mourinho yang seakan menjelma menjadi MOUnchester United atas idealismenya. Kita lihat saja nanti,  apakah Mou akan kembali menjadi korban ekspektasi dari jajaran SEO klub beserta United Fans yang rindu akan ekspektasi gelar kasta tertinggi. Atau justru Mou akan tetap menjadi juru racik yang membawa bumbu tersendiri bagi United. Sehingga inddntitas United seakan bukan lagi Manchester United, melainkan seolah menjadi MOUnchester United.

Toh nyatanya perdebatan pembahasan ini tetap tak menafikan fakta bahwa Manchester United telah terseret keluar dari dari persaingan merebut kampiun kasta bergengsi Liga Champions Eropa musim 2017-2018.

Sampai jumpa tahun depan, Glory Glory Mou United 😁




Lamongan, 14 Maret 2018

 ( United Fans yang Tak lagi United )
😂

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.