Politik dan Sepak bola (Bagian Kedua)

Lauching Persela Lamongan 2018

Candu, Identitas, hingga Integralistik

Pada kesempatan lalu dalam salah satu opini penulis berjudul Politik dan Sepak bola (Baca), dipapar sebuah  pernyataan menarik  dari legenda sepakbola Maroko Musthofa Hadji. Kala itu eks Aston Villa tersebut mengutarakan bahwa bagi orang Maroko sepakbola seolah merupakan agama kedua setelah Islam yang menjadi agama mayoritas.

Bagi orang pragmatis perkataan Musthofa Hadji diatas memang terkesan lebay. Sangat jauh dari daya nalar untuk disandingkan antar dua variabel. Mana mungkin sebuah permainan belaka mampu duduk sejawat dengan sebuah agama yang digadang sebagai produk langit 

Tapi mengacu realita yang terjadi, hemat penulis bolehlah menilai 11 - 12 lah antara sepakbola dengan agama. Tipisnya jarak banding antar dua objek tersebut mengacu pada eksistensi dua hal tersebut dalam sebuah tatanan masyarakat.

Alhasil sepakbola seolah sebagai sebuah candu bagi para penikmat yang ketagihan dengan kadar nikotinnya. Bahkan beberapa tahun lalu pernah terdengar selintingan populer di telinga masyarakat Indonesia. Jika ingin membahagiakan masyarakat Indonesia secara kaffah maka caranya sangat simpel. Antar saja Timnas Indonesia ke ajang bergengsi Piala Dunia, lebih lagi mampu menjadi kampiun dalam ajang bergengsi nomor Wahid tersebut.

Candu sepakbola pun menyebar secara cepat, menjangkiti segala ruang ruang kemanusiaan. Kini sepakbola bukan hanya terbatas teruntuk laki laki saja. Anak anak, kaum perempuan, bahkan manula pun banyak yang terjangkit juga. Dari pihak berlatar belakang politisi, pegawai negeri, pemerintah daerah, militer, pengusaha, bahkan pemuka agama pun tak luput dari serangan candu sepakbola.

Terbaru, bahkan dua klub Liga 1 Barito Putera dan Persela Lamongan melaunching timnya dengan sentuhan religi.  jika Barito Putera melaunching tim dengan dzikir di stadiun kebanggaan, maka Persela Lamongan memilih mengkolaborasikan sholawat ala Syekhr Mania Lamongan dalam rangkaian pengenalan tim. Sebuah kombinasi yang ikonik menjelang perhelatan liga 1.

Kembali ke perihal Sepakbola,  jika hal semacam ini dipandang kalangan menggunakan  kaca mata cekung tentulah akan menganggap sepakbola dalam batasan sempit, dekat, dan hanya sekedar olahraga permainan.

Sebaliknya jika hal serupa dipandang menggunakan lensa cembung yang mampu melihat jarak yang jauh. Maka sepakbola justru menyandang diri secara universal lebih luas untuk dijajaki dengan kaca mata yang lebih dinamis.

Artinya sepakbola bukan hanya sebuah permainan berebut mana klub yang menang dan mana yang kalah. Atau mana yang mencetak skor dan mana yang terbobol jalanya. Ibaratnya sepakbola bak sebatang pohon dengan hiasan berbagai cabang cabang hasil metamorfosis bentuk.

Seiring perkembangan zaman dengan boomingnya sepakbola dalam tatanan masyarakat. Pada akhirnya sepakbola bermetamorfosa menjadi sebuah bangunan baru yang terintegrasi dalan budaya melting pot. Sebagai wadah adu politik, pertarungan ideologis, ekspansi ekonomi, basis perlawanan fenomena goncangan sosial masyarakat, hingga pertentangan antar identitas dua budaya antar agama.

Perlu contoh, tengok saja sepakbola Indonesia yang dikenalkan oleh bangsa Belanda sebagai penjajah kala itu. Berlanjut dengan keikutsertaan timnas Hindia-Belanda  pada edisi piala Dunia era 1939, yang kerap dibangga-banggakan stakeholder bola sebagai prestasi Indonesia jaman jadul.  Tetapi Realitanya dalam skuat yang diberangkatkan sangat minor pemain yang berafiliasi ke pribumi, justru mayoritas adalah keturunan Belanda sendiri yang umumnya klop dengan NIVU, Nederlandcshe Indische Voetbal Unie (PSSI Versi Belanda).

Ekslusifitas sepakbola saat itu terbilang tinggi, mungkin hanya para penggede Belanda atau para pribumi penjilat yang dapat menikmati geliat dunia bola melalui klub klub antar daerah. 

Nah, inilah yang menjadi salah satu sebab lahirnya badan PSSI di 1930 sebagai lembaga yang bukan hanya sebagai media untuk menikmati geliat permainan bola. Dimana tujuannya juga untuk oposisi badan NIVU.

Saat itu geliat bola memang sudah menjajakan kakinya ke arah lain. Bukan hanya meruntuhkan dominasi ekslusifitas sepakbola yang dirajai elitis penjajah. Melainkan juga berkamuflase sebagai ajang basis perlawanan pergerakan lewat badan tandingan buatan Belanda.

Itu belum membicarakan gambaran sepakbola di era kekinian yang tak perlulah dijabarkan mendetail. Sebagaimana metamorfosisnya sudah penulis paparkan diawal, toh semua orang mungkin sudah paham benar realita kondisi sepakbola jaman Now yang sarat integralistik dengan bidang lain.

Integrasi inilah yang memunculkan sebuah identitas khusus dalam sebuah permainan sepakbola. Identitas yang kerap memicu pergolakan rivalitas berkepanjangan antar penggiat bola. Jika di liga Indonesia Laga Persija vs Persib kerap disebut El clasico klasik Pasundan - Betawi yang kerap menimbulkan gejolak atas identitas fanatisme kedaerahan. Maka fenomens di luar sana mungkin jauh lebih spesifik akan rivalitasnya. 

Lihat saja rivalitas Derby sekota Liga Skotlandia, Glasgow Celtic vs Glasgow Rangers. Derby sesama klub Glasgow tersebut bukan hanya Deby bergengsi antar tim sekota, mana yang lebih jago dan unggul. Lebih parah lagi,  Celtic vs Rangers bahkan kerap dihiasi pergolakan panas dua identitas agama yang menjadi background dua klub Glasgow tersebut. Celtic dengan basis Kristen Katholik sedang Rangers merupakan tim bergenre Kristen protestan.

Ada pula laga El Clasico Real Madrid vs Barcelona yang sarat pergolakan dua identitas pergolakan politik dua kota berpengaruh di Spanyol " Madrid dan Catalunya". Yang hanya kalah dengan bentrok Derby klasik bertajuk  "Super Clasico" di Amerika Latin. Ya, Boca Juniors vs River Plate yang merupakan representatif dari metamorfosis sepakbola. Dari ajang persaingan hiburan menjadi sebuah integralistik pergolakan dua Identitas sosial di kota Buenos Aries.

Berbincang tentang Identitas bola memang tak ada habisnya untuk dicari pungkasannya. Naluri alamiah manusia untuk mencari eksistensi pada akhirnya memunculkan sebuah Identitas yang terus terusan diupayakan meroket ke permukaan. Dalam hal ini termasuk Identitas dalam setiap Stakeholder sepakbola.

Selagi ada identitas lain yang menjadi basis persaingan tentulah pergolakan antar identitas menjadi keniscayaan yang tak dapat ditepiskan. Sama seperti pluralnya identitas dalam tatanan masyarakat secara umum yang mampu bersatu dalam satu wadah homo yang lebih luwes mengglobal.

Identitas dalam sepakbola juga berlaku demikian, sebagai hukum alamiah. Lihat saja tiap Timnas suatu negara bertanding, niscaya basis penggiat akan mengglobalkan diri dalam satu identitas yang lebih terbuka, tanpa membawa embel embel identitas skala lokal kedaerahan. 

Pastinya tahun ini geliat identitas bola yang terintegrasi dalam segala bidang akan menarik untuk dinantikan. Pertengahan tahun nanti ada ajang bergengsi empat tahunan langsung dari Rusia. Belum lagi ajang mini dari Timnas usia muda di berbagai ajang yang tak perlu penulis sebutkan. Lalu diakhir tahun ada gelaran Piala AFF yang tentu membawa ekspektasi berlebih sepakbola Indonesia yang hampa gelar bergengsi. (End)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.