Buntu


Kopi racikan sendiri di arah depan, sedang rokok tak terselip di tangan. Tapi sungguh otak masih tak mampu diajak untuk bermesra dengan retorika dialeka sederhana. 

Padahal malam semakin larut, dengan iringan paduan nyanyian tiga serangkai hewan malam. Krik krik jangkrik sebagai pengganti alunan gitar akustik seperti di kafe kafe perkotaan.

Ditambah ciutan burung malam sebagai vokal pengiring zona nyaman. Berkolaborasi dengan ngoreknya sang kodok bak backing vokalnya. 

Nikmat Tuhan mana yang kau dusta kan coba. Kontes alami yang tak perlu merogoh kocek untuk menikmati kemerduan jeritan hati makhluk yang penuh penghayatan. 

Cukup dengan duduk santai di depan teras rumah. Lalu ditemani segelas kopi pahit racikan sendiri. Ditambah jeritan lagu jadul dari gawai sakti. Semacam; Koes Plus, Tommy J Pisa, Annie Carrera, Nike Ardilla, Payung Teduh,  hingga sang maestro Chrisye.

Tapi sayang, Korasan kertas yang disiapkan untuk merekam jejak kenyamanan di malam bulan sya'ban. Nyatanya masih kosong tanpa transkrip sebuah kata kata. Sebagai bukti laporan pertanggung jawaban tentang zona nyaman yang didapatkan. 

Mau merangkai kata tentang perbincangan terkini peradaban, tapi terlalu berat untuk dijadikan santapan penutup malam. Cocoknya mungkin ekspresi kata kata kegalauan seperti yang biasa dilakukan oleh generasi milenial. Sambil sesekali diberikan bumbu bumbu hikmah kehidupan dengan penuh kepuitisan.

Tapi rasanya terlalu berat pula  untuk merangkai kata kata puitis di bawah sinar rembulan sabit. Apa mungkin gegara otak yang masih ngambek atas pemaksaan dalam mencoba menjajah kekaguman kala malam menerjang.

Bahkan lagu lawas sepanjang hidup Boomerang, yang biasanya dinyanyikan bersama dibawah rimbulan rembulan perkuliahan. Masih juga tak menjebol  batasan fikiran untuk mengungkapkan eskpresi melalui kata kata sederhana.

Benar kata para pujangga kepuitisan, bahwa tak selamanya kekaguman akan mampu terlampiaskan dengan sebuah realita tindakan.

Sama halnya dengan ekspektasi berlebih pada fikiran. Yang dipaksa kagum pada suasana heningnya malam. Pasti tak akan terwujud hubungan chemistry mutualisme antar fikiran dan perasaan yang diekspektasikan dalam tulisan.

Sayang, kali ini kembali kau tak disini. Memberikan gebrakan pemikiran tentang imaji, ekspektasi, dan teori teori tentang kehidupan. Seperti yang kita racik bersama di warung warung kopi. Apalah, selamat malam untuk angan yang diharapkan.


Lamongan, 25 April 2018. (22.00 wib)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.