Kajian Al Hikam: Bergegas Beramal, Jangan Tunda



" Menunda nunda suatu amal itu diwaktu yang dianggap baik berati akalnya bodoh, jiwanya tolol. Sebab tiap waktu itu ada amalan tersendiri "
(Hikmah ke 26)



Penjelasan Kyai Djamal

Hikmah pengajian Al Hikam kali ini menyinggung orang yang rugi sebab menunda muda mengerjakan sebuah amal. Disebabkan karena tiap waktu itu tentu mempunyai sebuah amalan tersendiri, yang berbeda dengan amal sebelumnya yang ditunda.

Kyai Djamal mencontohkan, jika seseorang bangun menjelang subuh maka hendaklah mengerjakan sebuah amalan Sholat Fajar dua rakaat. Jangan ditunda tunda kesempatan tersebut. Karena ketika subuh tiba maka jenis amalan yang dianjurkan pun berganti, Seperti shalat Qobliyah subuh. Otomatis amalan sholat fajar pun hilang sudah tak berjalan.

Ini sama halnya dengan jika mendapat nikmat dari Allah SWT maka sesegera mungkin melakukan ibadah syukur. Karena seketika nikmat itu dicabut, berganti menjadi sebuah bala' dan musibah. Maka amalan ibadah yang dianjurkan pun ikut berganti, dari anjuran syukur menjadi anjuran ibadah sabar.

Berlaku pula dengan kesempatan untuk bertaubat dari dosa. Maka segera mungkin bergegas untuk bertaubat dari dosa tersebut. Bukan malah menunda taubat, atau justru memperbanyak sebuah dosa yang diperbuat.

Terkait taubat Imam Ghozali (w 505 h) Pernah berkata, " Barangsiapa yang menunda nunda sebuah taubat. Maka dikhawatirkan orang tersebut akan menimpa dua hal. Pertama, semakin banyak maksiat semakin mudah untuk berkarat sehingga sulit untuk dibersihakan. Kedua, tertimpa sakit atau bahkan kematian.

Adapun bertaubat itu ibarat sebuah kaca kamar mandi. Jika percikan air kerap terkena kaca dan tak dibersihkan pula. Maka lambat laun kaca kamar mandi besar akan buram.

Sama halnya dengan hati yang kotor tak dibersihkan, maka lambat laun akan berkarat sulit melihat hal hal berfaedah.

Hal diatas merujuk  pula sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya; " Sesungguhnya hati itu bisa berkarat ibarat berkaratnya besi. Seorang sahabat bertanya; Apa pembersihnya wahai Nabi ?. Nabi menjawab; membaca Al Qur'an dan Ingat kematian ".

Kemudian Kyai Djamal juga menceritakan pengalaman pribadi beliau semasa bersekolah di SR Gondang legi. Dimana Kyai Djamal mempunyai teman yang hobinya suka memancing ikan.

Suatu saat teman tersebut meninggal dunia. Kemudian tatkala tukang gali kubur membuat liang lahat, terjadi keanehan yang nyata. Tanah dasaran liang lahat yang digali justru tampak bersih dan menyerupai tanah "plesteran".

Dalam waktu yang lain satu orang pun memutuskan bertanya kepada sang istri teman Kyai Djamal tersebut. Terkait amalan apa yang dilakukan semasa hidupnya hingga berdampak luar biasa.

Ternyata kata istri tak ada amalan khusus. Hanya istiqomah membaca Al Qur'an setiap ba'da Sholat Fardhu. Selain itu juga Istiqomah berwasiat kepada sang istri untuk mengamalkan hal serupa.

Hal lain yang dipesakan Kyai Djamal adalah bahwa di era sekarang, tiap keluar rumah pasti akan berhadapan dengan sebuah kemaksiatan. Ntah itu melalui penglihatan, pendengaran, hingga perbuatan.

Karena memang model orang Indonesia bermacam macam. Ada yang mengumbar nafsu aurat, ada yang gemar mengadu domba, dan lain sebagainya. Tentu hal tersebut haruslah disadari benar bahwa hal semacam ini hakekatnya dosa. Jangan merasa tak masalah, nanti malah dikhawatirkan akan menjerumuskan pada kemurtadan, akhibat Menghalalkan apa yang haram.

Kondisi inilah yang menginisiasi Kyai Baidhowi Lasem, Guru Kyai Moh Djamaluddin Ahmad untuk memberikan ijazah amalan. Sebagaimana pesan Kyai Baidhowi pada Kyai Djamal kecil untuk tak lupa membaca Istighfar dan Sholawat kapan pun waktunya dan dimana pun tempatnya.

Kemudian amalan lain yang disinggung Kyai Djamal dalam pengajian ini adalah ijazah teruntuk para santri dan pelajar. Agar menjernihkan hati supaya mudah menerima ilmu manfaat dalam pencariannya.

Kyai Djamal menuturkan para santri dan  pelajar supaya istiqomah mengamalkan QS An Nur: 35 setelah shalat Subuh dan Ashar. Dengan dibaca berulang-ulang sebanyak tiga kali.

اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ 


Kembali perihal taubat, Allah berfirman dalam QS An Anfal : 33


وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun." (QS Al Anfal: 33)

Terkait orang bertaubat maka membuktikan bahwa akal orang tersebut masih hidup. Persis dikatakan Sabda Nabi Muhammad Saw yang intinya: " Sesungguhnya tanda tanda akal seseorang hidup ialah menjauhi dari rumah tipuan ( Tipuan Duniawi).

Adapun tanda tanda orang yang tertipu dunia menurut penjelasan Kyai Djamal yaitu; mencari harta dengan cara yang dilarang oleh Allah SWT, serta mencari harta namun meninggalkan kewajiban ibadah.

Menurut Kyai Djamal jika hidup hanya diperuntukkan untuk makan (keduniawian). Maka tidak ada bedanya dengan "wedus".

Terakhir sebelum memungkasi pengajian Al Hikam, Kyai Djamal kembali memberikan sebuah hikayat cerita. Kali ini cerita bersumber dari Kyai Yusuf Kholil, Ayahandanya Gus Ipul (Syaifullah Yusuf).

(Siksa Kubur)

Pernah suatu ketika Kyai Yusuf Kholil bercerita kepada Kyai Djamal. Bahwa dirinya (Kyai Yusuf Kholil) usai berta'ziyyah ke suatu daerah yang memang mayoritasnya orang NU. Amalan dan kaifiyah merawat Jenazah hingga penyematan ke kuburan juga dilakukan dengan amalan NU.

Usai penguburan, seorang bernama "Selamet" yang kala itu bertugas mengadzani dan mentalqin. Tiba tiba pingsan usai membaca lafadz Khattab 'ala Sholah".

Karena tak kunjung saaar Muden selamet tersebut pun akhirnya digotong menuju rumah untuk beristirahat. Setelah lama pingsan tiba tiba ia sadar, dan seketika itu pula salah satu orang bertanya apa yang membuat ia pingsan.

Mendengar pertanyaan, seketika itu pula muden pak selamet kembali pingsan. Hingga berulang tiga kali kejadian pingsannya.

Waktu sadar cukup lama, akhirnya Pak Selamet pun bercerita panjang lebar alasan mengapa ia kaget dan pingsan kala adzan. " Innalilahi, aku tadi diperlihatkan barzah. Jenazah tersebut dipenuhi  berbagai hewan. Jenisnya pun hingga tujuh macam hewan, seperti ulat, kelabang, kala jengking, dan lain sebagainya. Ketika aku melihatnya aku pun pingsan".

Karena penasaran seorang warga pun menceritakan hal tersebut pada sang ibu si mayit tersebut. Sambil mencari tahu amal apa yang telah diperbuat hingga seperti demikian endingnya.

Mendengar perkataan salah satu warga. Sang ibu pun menangis dan berkata, " Derek derek jangan seperti anak saya. Tiap ba'da Maghrib ia selalu pergi. Sedang pulang ketika tengah malam dengan keadaan mabuk. Saat aku nasehati mesti ia selalu membentak sambil menggedor meja".  Na'udzu Billah. (End)

Tepat sebelum doa akhir majlis dikumandangkan Kyai Djamal. Sekali lagi Kyai Djamal memberikan sebuah hikmah. Bahwa orang cerdas Itu adalah orang yang mampu untuk mengoreksi diri dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedang orang tolol adalah orang yang gemar mengikuti hawa nafsu.


Selesai


Catatan:

Tulisan diatas merupakan hasil rangkuman resuman pribadi merujuk Pengajian Al Hikam Kyai Moh Djamaluddin Ahmad.

Waktu: 23 April 2018
Via : Streaming studioibien.com.



Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.