Semrawutnya Sastra Ibu Indonesia

Sumber: viva

Rasanya terbilang telat bagi pribadi untuk andil menyoal perdebatan kontroversi puisi Indonesia lantunan Ibu Sukmawati Soekarnoputri. Sudah banyak penanggap dari kalangan lintas batas; mulai dari sastrawan dadakan yang seketika ikut terlibat membuat puisi tandingan, para politikus kasta istana yang andil melaporkan kasus penistaan, hingga tokoh lintas ormas yang beragam berlomba membijakkan diri memberikan statement.

Meski sudah hampir seminggu berlalu sejak "episode pertama" sebagai plot awal fenomena. Namun pagi hari ini saja (05/04/18) perbincangan perihal kesemrawutan pergolakan kontroversial sastra Sukmawati kembali menjadi Tranding Topic, diantaranya seperti di jagat Twitter dimana hastag Sukmawati kembali menempati peringkat Wahid dari sepuluh topik populer kategori nasional.

Wajar saja pergolakan kontroversi Puisi Ibu Indonesia Sukmawati telah memasuki babak baru. Usai berbagai pihak berlomba melaporkan Sukmawati ke Bareskrim atas dogma penistaan agama. Pergolakan dikejutkan dengan kabar Sukmawati Soekarnoputri secara resmi menyampaikan permohonan maaf pada berbagai pihak terkait puisi lantunannya yang menimbulkan kegaduhan.

Sebagaimana ucapannya dikutip Jawapos (05/04/18), " Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir dan batin kepada umat Islam Indonesia, khususnya bagi yang merasa tersinggung dan keberatan".

Melalui dialeka ini penulis tak perlulah secara gamblang mereview bagaimana kronologis fenomena tersebut step per step. Karena memang sudah banyak opini dan kabar liputan yang tersebar di jagat virtual dalam mengurai dan menanggapi kesemrawutan kontroversi puisi lantunan Sukmawati.

Pastinya kasus kontroversi putri Bung Karno tersebut yang menjurus penisbatan dogma Penistaan agama. Tentu secara otomatis akan membuka memori panasnya kasus Ahok atas dakwaan penistaan (QS Al Ma'idah) agama Islam gegara kesalahan besar memilih redaksi dalam pidatonya di kepulauan seribu.

Kembali perihal sastra, memang berbincang tentang sastra tak akan habis untuk ditafsirkan akan unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Karena memang sebuah karya sastra dibuat berdasarkan penghayatan perasaan yang muncul seketika dari lubuk hati yang paling dalam. Dipengaruhi rujukan pada pengalaman sang mushonif sastra itu sendiri.

Sebab inilah sebuah karya sastra kerap disambut dengan penafsiran bebas dari berbagai insan. Tergantung dari kepekaan si penikmat menjebol batas pesan dari karya sastra. Serta kepiawaian berijtihad mentafsiri sudut pandang sastra tersebut dibuat oleh sang mushonif.

Dalam hal ini berlaku pada puisi Ibu Indonesia yang dilantunkan Sukmawati Soekarnoputri. Dimana endingnya adalah kemunculan penafsiran negatif atas diksi puisi berjudul Ibu Indonesia, yang memang sarat pencangkokan dua variabel tak sejenis dan tak sederajat pula untuk dikomparasikan dalam satu rangkaian bait nan puitis.

Disini penulis bukan bermaksud memposisikan diri sebagai kubu "pro" Sukmawati, membelanya dari dogma penista agama yang disandangkan pada pihak yang kecewa dengan perangai putri Sang Proklamator tersebut.

Faktanya penulis juga mutlak tak sepakat atas penggunaan beberapa diksi puisi Ibu Indonesia yang membandingkan dua variabel tak sederajat. Membandingkan sebuah budaya lokal dengan sebuah budaya kreasi syariat agama. Mustahil didapat sebuah hasil perbandingan yang objektif.

Hemat pribadi, ini soal penonjolan sebuah identitas, bukan murni sebuah kasus penistaan agama. Hanya "dhorofnya" saja yang terbilang sangat tak tepat. Toh Sukmawati Soekarnoputri sendiri secara legal tercacat sebagai muslimah yang menganut agama Islam.

Walau dalam diksi puisinya ia mengaku tak tahu syariat Islam, namun secara logis tentu tak mungkin penganut sebuah agama akan menistakan agama yang dianut sendiri, lain lagi kalau dirinya mungkin memiliki sebuah ketauhidan lain. Toh secara resmi Sukmawati telah meminta maaf atas perangai "over" dalam mengkreasikan sebuah sastra.

Dengan kata lain menurut penafsiran penulis sebagai penikmat opini bebas. Dapat ditarik sebuah premis bahwa kasus kesemrawutan ini memang sebuah penonjolan sebuah identitas yang dibenturkan dengan identitas lain diluar identitas yang diyakini.

Apalagi dalam dua tahun terakhir ini identitas penonjolan atribut Islam sangat kental kepermukaan. Hingga berlanjut maraknya pelabelan statement Islam phobia yang dipasang pada pihak pihak yang ogah menerima kehadiran atau mengoposisi penonjolan atribut Islam dalam hal materialistik.

Jika dilihat sekilas saja sudah terlihat jelas bahwa puisi Sukmawati menguraikan perbandingan sebuah identitas lokal Indonesia dengan sebuah identitas lain diluar yang dialaminya. Ia membandingkan Sari Konde dengan Identitas Cadar yang beberapa waktu lalu sempat booming. Atau membandingkan identitas merdunya kidung dengan sebuah lantunan adzan. 

Tapi perlu dicatat bahwa imbuhan "-Mu" pada padanan kata Cadar (Cadarmu) dengan Adzan (Adzanmu) tentu memberikan sebuah penafsiran khusus yang tak berlaku secara universal. Dalam arti lain terdapat sebuah "dhomir mukhotob" yang menjadi sasaran utama pengenaan rujukan imbuhan "-Mu". 

Dengan demikian pengenaan identitas yang dibandingkan oleh Sukmawati bukanlah bersifat objek (agama) melainkan pada subjek (pelaku agama). Sepertihalnya merujuk pada pengakuan Sukmawati dalam detik.com (02/04/18) bahwa puisi Ibu Indonesia dibuatnya berdasarkan pengalamannya yang mendengar kemerduan suara lantunan kidung ibu ibu, atau pengakuannya bahwa tak semua pelantun adzan suaranya merdu.

Namun pastinya fenomena tersebut terlanjur memasuki arc baru. Kontroversi puisi Sukmawati terlanjur sudah terbawa ke meja hukum. Beberapa pihak yang tak terima pun ogah mencabut laporan pengaduannya ke Bareskrim Polri. Sebut saja alumni 212 dengan salah satu anggotanya Dedi Suhardadi  yang menganggap Sukmawati telah terlanjur mencederai agama Islam, sebagaimana dipapar kompas.com (04/04/18). 

Sebuah fenomena yang begitu epic di awal bulan April. Semoga saja kontroversi kasus Sukmawati Soekarnoputri memang semata mata muncul atas peneguhan identitas berdasar pengalaman  pribadi diatas identitas lain. Bukan semata mata efek menjelang sayembara politik yang sarat "lebay" dengan penarikan premis psywar menyongsong geliat politik terhadap sebuah opini tokoh yang berpengaruh. Persis seperti umpan balik yang didapat politikus senior Prabowo Subianto dan Amin Rais usai mengeluarkan sebuah statmen opini beberapa hari sebelumnya.

Apalagi track record Sukmawati Soekarnoputri sendiri terbilang bukan sebatas budayawan. Ia juga  mempunyai hubungan darah dengan Megawati Soekarnoputri dan PDI-P, yang kerap dianggap beberapa pihak sebagai partai sekuler yang nihil dengan sentuhan Islam. Belum lagi keterlibatannya sebagai politisi aktif dalam sejarah perpolitikan Indonesia melalui PNI Marhaenisme pada Pemilu legislatif 2009.

Atau bahkan terkini posisi Sukmawati adalah sebagai pelapor tunggal Habib Rizieq Shihab sebagai tersangka kasus penistaan (Sila Pertama) Pancasila Soekarno yang disebut Habib Rizieq berada di pantat.

Jadi tidak mengherankan jika banyak pendukung Habib Rizieq Shihab yang mayoritas adalah alumni 212  yang antipati dengan permohonan maaf Sukmawati, dan melanjutkan untuk tetap mempertahankan posisi sebagai pelapor Sukmawati atas dogma penistaan agama lewat puisinya. Terlepas dari keistiqomahan memegang keyakinan membela kebenaran sesuai apa yang diyakini dalam identitasnya.

Terakhir, penulis berharap seperti yang tentu diharapkan oleh pemerhati Indonesia pada umumnya. Semoga saja fenomena semrawutnya pergolakan kontroversi Puisi berjudul Ibu Indonesia lantunan Sukmawati tak menjadi bara api dalam memunculkan sekat sekat yang menonjolkan identitas mutlak hingga menihilkan batas kemanusiaan dalam cakupan identitas diluar yang diyakini, semoga.


Tulisan juga dimuat di Geotimes.com

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.