Mendadak Salah dan Identitas Penyokongnya

Sumber: Goal.com

Akhir pekan lalu fenomena mendadak Liverpudlian menjadi tranding topic dalam kancah final Liga Champions. Tagar #2018gantijuara pun berseliweran menghiasi penjuru media sosial.

Bosan melihat  Real Madrid kembali  gondol  si kuping  besar adalah alasan logis banyak fans yang berhijah ke gengs Anfield. Terlepas dari moncernya trio SFM (Salah-Firminho-Mane), hingga menjadikan juru gedor si merah menjadi pemegang kendali tim terproduktif UCL musim ini.

Ya, endingnya memang tak sesuai ekspektasi usai Madrid leading 3-1 atas Liverpool. Berbagai drama yang tersaji dalam match tersebut menjadi keepikan tersendiri di sudut Kota Kiev Ukraina.

Salah satunya mungkin cedera bahu "Ace" Mohamed Salah yang didapat dari bentrokan fisik dengan kapten Real Sergio Ramos. Hingga pada akhirnya memicu berbagai reaksi celaan beragam pihak pada bek Real tersebut.

Hasilnya sudah bisa tertebak, fenomena mendadak salah pun membanjiri berbagai ruang media. Menurut perspektif penulis setidaknya terdapat dua hal yang menjadikan Salah menjadi sebuah trending.

Pertama, tentu ekspektasi berlebih yang dimandatkan pada Salah untuk mengakhiri dominasi perseteruan klasik Ronaldo - Messi sebagai pemain terbaik sejagat. Mengingat statistik eks Chelsea tersebut sangat moncer, usai sebelumnya juga mendapati gelar pemain terbaik Liga Premier Inggris. 

Belum lagi kotribusi menawan Salah di level Nasional dengan mengantarkan Timnas Mesir ke Rusia 2018. Sebuah oase bagi tim ratu Elizabeth dalam kancah Piala Dunia.

Kedua, adalah persoalan Identitas yang melekat pada Mohammaed Salah. Apalagi budaya identitas yang diteguhkan dalam Salah adalah perihal keagamaan  yang sarat pengakuan dan kefanatikan.

Itu belum citra positif Muhammed Salah sebagai muslim yang dianggap taat akan syariat. semacam Kerap bermesra dengan Al Qur'an, Sujud Syukur, hingga gemar berkunjung ke Tanah Suci (Umrah).

Memang Salah bukanlah satu-satunya muslim yang berstatus pemain profesional, yang berkiprah di klub elite benua biru. Sebelumnya ada nama nama semacam; Ribery (Bayern), Ozil (Arsenal), Benzema (Real), Pogba (United), Nasri (Man City), Mahrez ( Liecester), atau bahkan Juru racik Maestro Zinedane Zidane (Real). Namun pastinya mainseat yang tersebar dalam media publik terkait sepak terjang identitas keagamaan Mohammed Salah  tentu menjadi sebuah afirmasi pembeda.

Apalagi asal muasal Salah adalah dari timur tengah (Mesir) yang memang sedang goncang akan isu radikalisme agama yang berujung terorisme, genosida, dan aksi kekerasan. Tentu ekspektasi publik, terutama muslim sejagat Lil alamin terhadap Salah adalah dapat menebar nilai Islam yang ramah dan mudah berbaur di tanah yang mayoritasnya kafir dhimmi.

Bahkan cendekiawan dan penulis muslim dari Arab Saudi, Aid Al Qarni, sebagaimana dikutip kumparan.com (15/04/2018) menyebut bahwa "Salah telah mengenalkan Islam dengan cara yang sangat baik, mencerminkan monoteisme murni dan representasi Islam yang sebenarnya, mungkin lebih (efektif) dari seratus atau seribu khotbah".

Bagi penulis perkataan Aid Al Qarni diatas  mengingatkan pernyataan Cendikiawan Indonesia Prof Quraisy Shihab dalam bukunya Cahaya Cinta dan Canda. Pakar Tafsir Al Quran tersebut menyebut bahwa "Pemain sepakbola yang salat pengaruhnya lebih besar daripada seorang Kyai".

Memang terkesan tak sederajat, tapi melihat realitas jagat sepakbola yang menjadi sebuah budaya internasional dengan aneka peleburan budaya dan Identitas. Tentu menjadi sebuah pembenaran argumentasi Prof Quraisy Shihab diatas. 

Ingin bukti, lihat saja fenomena mendadak Salah yang terjadi akhir akhir ini. Bahkan kerap bersambut dengan lebaynya penyikapan; seperti mengutuk Sergio Ramos atas nama Islam, hingga kabar pengadaan aksi bela Salah di Kedubes Spanyol di Jakarta.

Nampaknya Identitas keagamaan juga tak lepas dari kepingan puzzle sepakbola. Yang mampu menjadi sebuah pengkontruksi peneguhan identitas keagamaan tersebut, bagaimana.


(Dibuat 28 Mei 2018, Disempurnakan 30 Mei 2018)


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.