Parma Promosi, Seven Sisters Kembali ?

Foto: Tribunews

Runtuhnya tatanan Seven Sisters

Maniak bola generasi sembilan puluhan yang hobinya mengoleksi berbagai macam poster klub sepakbola. Tentu tak asing dengan poster tujuh klub legendaris Italia yang terkolase. Sebut saja; Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, Fiorentina, SS Lazio, dan AC Parma.

Ya, saat itu memang tujuh klub diatas menjadi bumbu daya tarik panasnya persaingan merebut Scudetto Serie A. Berbagai pemain kelas dunia serta wonderkid berbakat pun menghiasi komposisi antar klub peserta Serie A. Tak hanya itu delegasi Serie A di jagat benua biru saat itu masih kerap diagungkan.

Namun itu dulu, kini Serie A tak lebih hanya sekedar pertarungan trio Juve - Roma - Napoli. Yang endingnya adalah superiornya Juventus sebagai Scudetto dengan margin poin yang begitu mencolok.

Empat lalu bahkan dunia bola gempar dengan kebangrutan  salah satu anggota Seven Sisters "AC Parma". Faktor faktor seperti; Tunggakan gaji para pemain, utang pajak, minimnya dana mengarungi kompetisi, hingga tak kreatifnya jajaran presiden klub menyasar para sponsor. Semua cacat tersebut menjadi tuntutan kebangrutan total Gialloblu.

Jika dibaca dalam segi kronologis maka  kebangkrutan pabrikan susu lokal Parmalat di tahun 2003. Yang telah menjadi sebagai sponsor utama klub sejak 1991 dengan berbagai prestasi moncer. Tentu hal hal itulah yang menjadi titik awal kemunduran Parma di tahun berikutnya. Termasuk penyebab eksodus besar-besaran para pemain bintang di awal 2000-an semacam ; Hernan Crespo, Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, hingga Lilian Thuram.

Mimpi buruk AC Parma datang di musim 2013-2014. Mampu finis di enam besar yang bersambut dengan tiket Piala UEFA. Tapi kisruh direksi yang tersangkut masalah tunggakan pajak dan utang klub membuat Parma tedopak dalam event kasta kedua eropa tersebut.

Kesemrawutan semakin menjadi benalu di musim berikutnya 2014-2015. Kerobokan direksi atas berbagai tunggakan utang dan pajak yang belum berbanding dengan cara penyelesaian. Menjadikan Parma harus menerima label sebagai klub bankrut.

Lebih miris lagi tercatat sejak Desember 2014 hingga Februari 2015 Parma sudah lima kali berganti presiden klub, mulai dari; Tommaso Ghirardi, Pietro Doca, Fabio Giordano, Ermir Kodra hingga Gianpiero Manenti. Bahkan Goal.com  memberitakan nilai jual Parma saat itu hanya bernilai satu Euro. jika dikurskan sekitar 14.000 rupiah saat itu.

Bayangkan dengan harga semacam itu anak kecil saja pun bisa memiliki kesempatan menjadi presiden klub. Terlepas dari tanggung jawab membayar tumpukan utang dan dana pinjaman klub yang menggunung.

Gagal membereskan rumah tangganya, Parma pun dilempar FIGC menuju kasta keempat (Serie D) sebagai tingkat tertinggi liga amatir Italia. Sebuah kejutan yang harus didapat salah satu klub bekas " seven sisters" di era sembilan puluhan.

Saksi Parma diatas bahkan melebihi catatan kelam Juventus, yang hanya dilempar ke kasta kedua serie B efek kasus Calciopoli di tahun 2005. Hasilnya banyak pihak saat itu yang skeptis Parma mampu kembali unjuk gigi akan taji eksistensi menembus kasta atas serie A.

Wajar saja jika melihat persoalan Parma yang begitu runyam akan utang. Seakan mengingatkan pula dengan beberapa klub legendaris yang tertimpa nasip sama. Sebut saja semacam Notingham Forest dan Leeds United yang hingga kini masih mesra berkutat di Divisi Championship.

Gialloblu Hattrick Promosi

Namun bukan berarti tak ada jalan penerangan. Tak ada yang mustahil untuk diwujudkan, bahkan itu termasuk bangkit dari kebangkrutan total gegara terlilit utang. Setidaknya itu pepatah klasik yang berlaku pada Parma sekarang.

Sempat diragukan kredibilitasnya bersama prrsiden baru Nevio Scala, dengan gebrakan kontroversi pergantian nama dari AC Parma menjadi Parma Calcio. Perlahan demi pasti keraguan tersebut terjawab.

Jika Juventus mampu back to back ke Serie A pasca didegradasikan ke kasta kedua tahun. Maka back to back ala Parma justru tak kalah epic dari Juventus, atau bahkan bisa dibilang melebihi keepikannya.

Jika di Juventus terdapat quarto loyalis; Del Piero, Buffon, Nedved, Trezeguet yang rela menemani Juventus berjuang di kasta kedua. Maka di Parma terdapat nama Alessandro Lucarelli, sang kapten sekaligus satu satunya pemain yang merasakan fase perjuangan Parma. Mulai dari kebangrutan total, hingga mengomandoi Parma mengarungi tiga kasta bawah.

Belum lagi cacatan Hattrick promosi tiap musim yang menjadi penegas epicnya  Back to Back Parma. Dalam kata lain "From Zero to  Hero", prestasi yang terbilang sulit untuk disamai klub Italia lainnya. Bahkan semacam Juventus, AC Milan, Inter Milan, hingga As Roma.

Pertama, Parma mampu menjuarai kasta empat (Musim 2015-2016) sejak didegradasikan. Bonusnya secara otomatis promosi ke Lega Pro (Serie C) dimusim berikutnya.

Kedua, berkutat di kasta ketiga musim 2016-2017. Parma mampu berbicara banyak dengan keberhasilan menggenggam tiket terakhir promosi Serie B. Dimana Parma mampu menyisihkan Alexandria lewat jalur Play off.

Lalu Ketiga, secara dramatis Parma mampu mewujudkan keajaiban dengan keberhasilan back to back ke pentas pertama Serie A Italia.

Kepastian Parma promosi ditentukan di Giornata terakhir Serie B Jumat lalu (18/05/18). Usai Parma menjungkalkan spesia 2-0. Menyisihkan dua rival terdekat; Palermo dan Venesia yang tertahan lawannya.

Keberhasilan Parma kembali ke Serie A tentu menjadi sebuah lanjutan dongeng dunia bola yang nyata adanya. Bukan sekedar hitung hitungan peluang dan statistik pertandingan dilapangan.

Persis seperti argumentasi pelatih kawakan Sacchi, “Parma adalah contoh peradaban, edukasi, dan kenikmatan hidup yang unik, dan bukan hanya di olahraga."

Bagaimana, masih tak percaya adanya keajaiban dalam sebuah perjuangan ?.




Dibawah guyuran Tadarusan
Jatipandak,  03 Ramadhan 1439 H






Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.