Kajian Al Hikam: Kisah Zuhud Para Waliyullah



Edisi Pengajian Al Hikam 
28 Oktober 2018

Penjelasan Kyai Djamaluddin

Pengajian Al Hikam kali ini merupakan lanjutan dari pengajian Al Hikam minggu lalu. (Baca) Dimana tema pengajian membincang tentang empat sifat Ubudiyyah yang harus diperhatikan.

Berkaitan tentang empat sifat Ubudiyyah sebagai disinggung minggu lalu. Kyai Djamaluddin mengutip qoul seorang ulama, bahwa barang siapa yang mengamalkan empat sifat Ubudiyyah maka doanya pasti akan diijabahi. Asal hati tetap mau meminta tolong pada Allah SWT, melakukan sholat, dan Sabar dalam segala tingkah. Karena Allah SWT bersama orang orang yang sabar.

Lalu, dalam awal pengajian ini juga disinggung sekilas tentang sifat fakir hamba. Dimana jika merasa fakir, janganlah berserah diri (Jawa: Ngusi) ke selain Allah SWT. Boleh berhubungan dengan mahluk, tapi harus diposisikan  sebagai perantara. Bukan malah sebagai tempat bermunajah (Jawa: mepet).

Untuk pengajian kali ini, Kyai Djamaluddin Ahmad banyak mengulang ulang syair buatan beliau berjudul"Ngakoni sifat sifat Ngemawulo" (sebagaimana dalam foto diatas).

Diselingi pula dengan  memaparkan kisah para sufi yang terkenal kezuhudannya, sebagai sebuah ibrah pentingnya sifat Ngemawulo kepada Allah SWT. Sebagaimana inti perkataan beliau dalam edisi Al Hikam minggu lalu, barangsiapa yang Ngemawulo pada Allah SWT maka akan dicukupi segala kebutuhannya oleh Allah.

(Pengeran Sufi Bernama Ibrahim Bin Adham)

Di suatu daerah yang terletak di Iran (sekarang), tepatnya di daerah bagian Khurassan, terdapat pada seorang raja (penguasa) namanya Adham. Raja tersebut mempunyai seorang putra pangeran yang bernama Ibrahim bin Adham. Putra raja tersebut mempunyai hobi berburu di hutan bersama para hamba sahayanya (Abdi) sebagai pelayan.

Suatu waktu dalam sebuah perburuan di tengah hutan. Ibrahim bin Adham bertemu dengan seekor kelinci yang besar. Tertarik dengan kelinci itu, Ibrahim bin Adham pun memutuskan untuk menangkap kelinci tersebut. 

Namun sayang segala usahanya untuk menangkap kelinci tersebut tak bersambut dengan keberhasilan. Tiba tiba ditengah perburuan terdengar sebuah Hatif (Hatif adalah suara tanpa jelas datangnya dari mana, alias tanpa ada wujudnya).

Hatif tersebut berkata, "Bukan untuk ini kamu diciptakan (Artinya kamu diciptakan tidak untuk berburu, tapi untuk mengabdi pada Allah SWT) "

Ibrahim bin Adham sempat apatis acuh terhadap suara Hatif tersebut. Ia pun memutuskan untuk kembali melanjutkan proses pemburuan kelinci besar tersebut. Namun untuk kesekian kalinya terdengar kembali sebuah Hatif, "Tidak untuk ini engkau diciptakan ".

Kali ini Ibrahim bin Adham mulai memahami hakekat perkataan Hatif tersebut, dan menyesali perbuatannya. "Jika demikian, aku diciptakan oleh Allah SWT bukan untuk berburu", pikirnya.

Alhasil, semua pakaian kepangeranan yang dikenakannya dilepas habis. Malah diberikan kepada para pelayan hamba sahayanya. Begitu juga dengan kuda tunggangan miliknya yang begitu gagah, pun tak luput untuk diberikan kepada hamba sahayanya. Hanya tersisa pakaian baju bulu menyerupai goni yang melilit di tubuh pangeran bernama Ibrahim bin Adham.

Usai melepas semua kegemerlapan dunia, kemudian Ibrahim bin Adham pun menuju Masjidil Haram (Makkah) dengan jalan kaki guna ibadah disana melalui munajah filllah dengan sifat fakir.

Hingga suatu ketika datang salah satu temannya di Makkah membawa segelas air Zam Zam dengan wadah yang awalnya tergeletak di samping sumur. Namun karena kezuhudan Ibrahim bin Adham, termasuk upaya menghindari sifat Subhat. Dengan mantab ia menolak pemberian air Zam Zam dari temannya, "Seandainya aku mempunyai timba sendiri, maka barulah aku mau minum Zam Zam ", kata Ibrahim bin Adham pada temannya.

Dengan kata lain hikayat ini mengisyaratkan tentang anjuran menghindari hal yang berbau Subhat. Persis dikatakan oleh Kyai Djamaluddin bahwa; " Barang subhat itu membuat hati menjadi gelap (Jawa : peteng). Sedangkan jika statusnya malah haram, maka membuat hati mati. Jika hati mati niscaya kehidupannya akan dikendalikan oleh syetan ".

***
Kemudian, Kyai Djamaluddin Ahmad melanjutkan hikayat Ibrahim bin Adham dalam kejadian lain.

( Ibrahim bin Adham dan Pemilik Kurma)

Kezuhudan Ibrahim bin Adham membuatnya menjadi terkenal di kalangan sufi. Amalnya selalu di angkat ke langit setiap hari, lalu hajatnya juga begitu mustajab setiap hari.

Suatu ketika Ibrahim bin Adham berhajat berpergian ke Masjidil Aqsha Palestina, guna beribadah di Qubatul Sokhro yang terkenal mustajab. Adapun Qubatul Sokhro merupakan sebuah bangunan yang didalamnya terdapat batu pijakan nabi Muhammad Saw kala hendak naik menuju Sidratul Muntaha (Mi'raj).

Sebelum menuju Palestina, Ibrahim bin Adham singgah sejenak di Masjidil Haram Makkah. Disana Ibrahim bertemu dengan pedagang kurma asongan, lalu membeli beberapa kurma dari pedagang tua tersebut

Selepas pedagang asongan tersebut pergi, Ibrahim bin Adham dikejutkan dengan dua biji kurma dibawah kakinya

Aturan yang berlaku di sana saat itu. Karena mengira dua biji kurma yang jatuh ke tanah tersebut merupakan hak miliknya dari pembelian yang sah, maka Ibrahim bin Adham mengambilnya. Setelah itu Ibrahim bin Adham pun memutuskan melanjutkan perjalanan ke Palestina menuju Qubatul Sokhro.

Budaya berziarah di Qubatul Sokhro, manusia hanya dibolehkan berziarah sebatas sampai batas sore hari. Disebabkan saat malam hari tiba, haruslah bergantian waktu dengan para malaikat yang berziarah ke Qubatul Sokhro.

Namun pada saat itu, Ibrahim bin Adham berhasil lolos dari penertiban di sore hari, hingga malam menyongsong tiba. Saat itulah para malaikat turun ke Qubatul Sokhro untuk beribadah kepada Allah SWT.

" Lho, masih ada jenis manusia di tempat ini ", kata salah satu malaikat.

" Inilah orang Khurassan yang terkenal itu. Amalnya selalu naik ke langit setiap hari, begitu juga dengan doanya yang mustajab. Tapi sayang tahun ini, doanya masih tertunda belum diijabahi oleh Allah SWT. Begitu juga dengan amalnya yang masih tertunda naik ke langit. Disebabkan ia memakan makanan yang bukan haknya, Kata salah satu malaikat yang lain.

Mendengar pembicaraan malaikat membincang dirinya. Ibrahim bin Adham pun menangis lalu seketika pingsan (jawa: njungkel). Saat sadar dengan sangat menyesal ia berencana kembali ke Makkah untuk mencari si penjual kurma demi sebuah keridhaan atas dua butir kurma yang telah diambilnya.

Sesampai di Masjidil Haram, Ibrahim bin Adham berhasil berjumpa dengan pedagang asongan yang berjualan kurma. Tetapi penjual tersebut bukanlah orang yang telah ditemuinya kala itu.

" Kamu kenal bapak bapak yang menjual kurma disini, sekitar setahun yang lalu. ", Tanya Ibrahim.

" Itu bapakku, tapi kini telah meninggal dunia. Ada maksud apa anda bertanya tentang hal tersebut ?", Kata si pemuda

Ibrahim bin Adham pun menjelaskan pada si pemuda penjual kurma tentang kronologi mendetail seputar kejadian yang dihadapinya.

" Begitu, kurma dua buah tersebut berarti statusnya kini sebagai barang waris. Saya tidak berhak memberikan keikhlasan sempurna atas barang tersebut. Meski sebenarnya saya  telah memberikan keridhoan atas dua butir kurma tersebut. Karena ayah saya wafat meninggalkan tiga ahli waris; saya sendiri, ibu, dan kakak perempuan. ", Papar si pemuda panjang lebar.

" Pertemukan aku dengan ibu dan kakak mu ", pinta Ibrahim bin Adham.

Setelah itu Ibrahim bin Adham pun berjumpa dengan dua ahli waris lain untuk meminta keridhaan. Hingga dua ahli waris tersebut ikut menyusul si pemuda memberikan keridhoan pada Ibrahim bin Adham atas dua butir kurma yang diambilnya setahun lalu.

Setelah itu Ibrahim bin Adham pun memutuskan untuk kembali ke Qubatul Sokhro guna kembali beribadah di sana. Hingga pada malam hari tiba kembali Ibrahim mendengar suara perbincangan para malaikat. 

" Ini orang Khurassan yang dulu. Kini amalnya telah diangkat ke langit, dan doa doanya kini juga telah kembali mustajab. Berkat kehalalan dan keridhaan yang didapatinya".

***
( Kaya Tapi Fakir)

Ada sebuah hikayat tentang seorang murid yang berguru ke seorang guru yang Zuhud. Rumahnya terbuat dari bambu, begitu juga dengan kursi dan mejanya yang terbuat dari kayu bekas. 

Setiap tahun tetap kondisinya seperti demikian, tanpa sebuah perubahan renovasi. Hingga suatu ketika datanglah seorang murid untuk sowan ke guru tersebut.

Murid tersebut berbanding terbalik dengan kondisi gurunya. Ia kini merupakan jutawan dengan pabrik dan mobil yang banyak. Melihat kondisi gurunya yang tetap tak berubah seperti kala ia nyantri, akhirnya tergugah hatinya untuk membantu gurunya.

" Wahai guru, seminggu lagi saya akan datang kembali kesini. Akan saya bawakan engkau lemari, meja, dan kursi yang baik ", kata si murid.

" Apakah engkau memang kaya ?", Tanya sang guru.
" Ya "
" Apakah engkau punya pabrik dan kendaraan ?"
"Ya"
" Apakah engkau ingin mendapati pabrik dan kendaraan lagi ?"
" Ya"
" Kalau begitu berarti engkau sejatinya fakir (membutuhkan segala sesuatu). Jadi hakekatnya lebih kaya saya berarti. Walau saya tak punya apa apa", papar sang guru memberikan pelajaran tentang hakekat fakir.

***
( Pengalaman Thorof An Naqsyafi)

Suatu saat ada seorang bernama Thorof An Naqsyafi (w 245 H). Beliau merupakan seorang waliyullah yang memilih derajat Zuhud.

Suatu ketika Thorof An Naqsyafi sedang berkeliaran jalan jalan di Padang pasir. Dan di perjalanan Thorof bertemu seorang pemuda yang juga sedang jalan jalan di Padang pasir. Uniknya pemuda tersebut tak membawa sebuah perlengkapan bekal makanan dan minuman. 

Thorof pun memutuskan bertanya ke pemuda tersebut, tentang alasannya tak membawa bekal makanan minuman sama sekali. Mendengar pertanyaan Thorof An Naqsyafi, si pemuda yang sebenarnya juga merupakan waliyullah pun berkata.

" Saya tak melihat apapun selain Allah SWT. Yang selalu saya lihat hanyalah Allah SWT. Jika saya sedang kehausan maka saya akan memohon kepada Allah SWT, mengangkat kedua tangan saya. Lalu pastilah akan keluar air dari jari jari tangan saya. Sedang jika saya sedang kelaparan lalu memohon kepada Allah swt, mengangkat jari jemari saya. Niscaya juga akan langsung muncul di tangan saya sepotong roti. Kalau seperti demikian buat apa membawa sebuah bekal makanan dan minuman, papar si pemuda panjang lebar.

***

(Ibrahim Al Khawash dan orang asing)

Terdapat seorang sufi bernama Ibrahim Al Khawash (w 291 H). Beliau merupakan salah satu murid dari Syekh Sirri As Shidqi (w 251 H). Bisa dibilang Ibrahim Al Khawash merupakan tiga serangkai murid hebat dari Syekh Shidqi, bersama Junaid Al Baghdadi (w 297 H) dan Husain And Nauri (w 285 H).

Selain itu Syekh Ibrahim Al Khawash sebenarnya merupakan penulis istilah "Dawa'ul Qolbi" alias Tombol ati (ono limo wernane), yang di terjemahkan Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang) dalam bahasa Jawa klasik. Hingga syair tersebut menjamur di kalangan masyarakat se-nusantara.

Diceritakan dari Ibrahim Al Khawash bahwa suatu saat, tatkala beliau sedang berkelana di hutan. Ibrahim bertemu dengan seorang fakir (dalam tasawuf istilah fakir bermakna sufi).

" Engkau hendak pergi kemana ?", Tanya Ibrahim.

" Ke Makkah"

" Kok tidak membawa bekal dan tidak pakai kendaraan ?".

"Allah yang menahan langit agar tidak runtuh. Manahan bumi agar tidak ambles. Hal tersebut membuktikan bahwa terdapat kemampuan yang lebih dari dzat yang maha penjaga. Sesulit hal tersebut saja dengan mudahnya terwujud, apalagi  memberi makanan dan minuman padaku tentu bukan hal sulit", papar lelaki tersebut.

"Engkau benar", sontak kata Ibrahim Al Khawash membalas.

Setelah itu Ibrahim Al Khawash dan lelaki sufi tersebut pun berpisah. Biasanya wali jika bertemu sesama wali jarang bertemu kembali. Tapi kali ini Allah SWT memperlihatkan sebuah Qudrat-Nya pada Ibrahim Al Khawash.

Di lain kesempatan, saat Ibrahim Al Khawash sedang melakukan ibadah thawaf. Ibrahim kembali diberi kesempatan bertemu lelaki sufi tersebut. Melihat Ibrahim, waliyullah asing tersebut hanya melirik sekilas, lalu mengucapkan sebuah syair, (yang artinya) "Wahai mata alirkanlah air matamu selamanya. Wahai nafsu matilah kamu dengan merasa susah".

Tak lama kemudian lelaki sufi tersebut berkata pada Ibrahim Al Khawash, "Apakah engkau masih lemah keyakinanmu"

"Tidak, aku sudah mengerti bahwa Allah SWT berkuasa atas segala sesuatu", balas Ibrahim Al Khawash.

***

(Syekh Sahal dan berak ajaib)

Dikatakan oleh Kyai Djamaluddin Ahmad bahwa hampir orang orang hebat diuji Allah SWT dengan tanpa kehadiran bapak. Sebut saja seperti Nabi Isa As dan Nabi Muhammad Saw. Ini bertujuan agar hati tidak tergantung pada hal selain Allah SWT, termasuk kehadiran sosok bapak.

Termasuk pula seorang ulama sufi bernama Sahal bin Abdillah At Tustari (L 200 H - w 293 H ) yang sudah ditinggal ayahnya saat masih Kecil. Oleh ibunya Sahal kecil dititipkan pada pamannya bernama Muhammad As Shawar. Untuk nantinya akan dididik dengan ilmu ilmu agama.

Umur tiga tahun, Sahal kecil sudah dibiasakan untuk sholat malam. Begitu juga saat hendak berpakaian, oleh Muhammad As Shawar diajarkan pembiasaan mengucap kalimat tauhid dalam hati.

"Allahu Ma'i (Allah selalu bersamaku) ". Dalam waktu lain diganti kalimat " Allahu Nadhoro Illayi (Allah selalu melihatku)". Lalu setelah Istiqomah disuruh mengucapkan kesemuanya dalam hati sejumlah tujuh kali.

Dalam peristiwa lain, saat Sahal mulai tumbuh. Ia gemar shalat Jum'at dibelakang imam. Pada suatu ketika terselip keinginannya melanjutkan keistiqomahan amalannya tersebut.

Namun sayang sekali, saat itu Sahal berstatus masbuq, hingga membuatnya tak bisa buruk dibelakang imam karena terhalang janaah. Sebab itu pula Sahal rel untuk melompati para jamaah yang ada dbatisan depan, menuju puncak posisi belakang imam.

Sesampainya dengan apa yang diinginkannya, terbesit keinginan (Jawa: kebelet) Sahal untuk buang air kecil dan besar. Namun jika ia melakukannya maka pastilah ia akan tertinggal Sholat Jum'at. 

Ditengah kegundahannya menentukan pilihan. Sahal dipanggil seorang yang duduk di sampingnya.

"Sahal, engkau sedang kebelet hajat ya ?"
"Ya"

Orang tersebut pun mengkerodong Sahal dengan sorban miliknya. 

" Jika engkau sudah selesai buang hajat, dan ku panggil. Maka sambutlah dengan perkataan ya sudah", kata orang tersebut.

Sahal pun menuruti perkataan lelaki disampingnya tersebut. Bi Idznillah hakekat Sahal sudah berada di luar ruangan, di kamar mandi depan pohon kurma. Kemudian segeralah Sahal membuang hajat bahkan ia habiskan dengan mandi pula.

Saat lelaki asing tersebut memanggil, dan Sahal sudah selesai. Segeralah ia mengucapkan kata "sudah". 

Lelaki samping Sahal tersebut pun melepaskan sorban dari Sahal. Bi Idznillah Sahal sudah berada di dalam masjid.

Sehabis shalat segeralah Sahal menghampiri lelaki asing tersebut. 
"Engkau kok bisa mengetahui kalau namaku Sahal. Padahal kita belum pernah bertemu ?", Tanya Sahal.

" Man Arofa Allah, Arofa Kullu Saiun (Barangsiapa yang mengetahui Allah, akan mengetahui segala sesuatu)"

"Supaya seperti itu bagaimana ?", Tanya Sahal kembali.

" Man Atto'a Allah, Atto'a Kullu Saiun (Barangsiapa yang taat Allah, maka akan ditaati segala sesuatu). Man Khofa Allah, Khofa Kullu Saiun (Barangsiapa takut Allah, maka akan ditakuti segala sesuatu) ".

"Bagaimana bisa seperti itu ?", Tanya Sahal untuk kesekian kalinya.

"Carilah, kelak pasti kau akan menemukannya ", kata lelaki asing tersebut, yang sebenarnya merupakan waliyullah.

Seiring berjalannya waktu Sahal bin Abdullah pun mampu mencapai derajat Zuhud yang tinggi. Hanya dengan memandang, Syekh Sahal mampu merubah batu bata menjadi emas, atau merubah pasir menjadi berlian.

****

Wallahu alam bi showab.


Oleh:
Rizal Nanda Maghfiroh


Sumber:
Disadur dari Pengajian Rutin Al Hikam
KH M Djamaluddin Ahmad (Tambakberas)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.