Kala NU Ikut Menjadi Radikal


Foto: Tempo
HTI yang beraliran Islam transnasional, atau bahkan FPI yang kerap sweeping merupakan salah satu ormas yang kerap didogma bergenre radikal. Meski dua ormas tersebut berbeda nasip, satu dibubarkan paksa dan satu lagi masih terjaga asah pergerakannya.

Tapi jangan salah, ruang lingkup istilah radikal yang dimaksud dalam wacana ini  terbatas dalam gramatikal istilah radikal itu sendiri. Yang tiada lain radikal berasal dari istilah "radik", yaitu menegang kuat sesuatu hingga akar akarnya. Bukan malah diarahkan pada pemahaman substansial berdasarkan penafsiran dari perwujudan tindakan ethnosentris kelompok yang dianggap radikal.

Sebab itu penulis disini terbilang tak sepenuhnya sependapat jika sebuah ormas yang menjaga momentum keradikalannya, stakeholdernya harus senantiasa di perlakukan minoritas. Apalagi diarahkan menuju pemahaman bahwa radikal condong menuju tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan.

Diakui atau tidak sampai tulisan ini dibuat, terdapat dua arah pergolakan tentang semangat keradikalan. Pertama, tentu tak asing lagi. Terdapat ormas  yang terdogma "haram" oleh negara. Adalah HTI yang disokong non struktural oleh FPI, MMI, beserta penggiat Islam ketat lainnya. 

Disisi lain, NU yang biasanya bersifat tawassuth (tengah tengah) dalam memosisikan diri. Terpaksa pula ikut terdorong dalam perang "Baratayudha" menebar  pengaruh di negeri yang penuh keterbukaan ini. 

Hasilnya pun mudah ditebak, perang urat saraf penggiat NU vis a vis Maniak Islam ketat pun tak bisa ditanggalkan. Apalagi NU struktural kini sangat mesra berafiliasi dengan pemerintah formil yang realitanya kerap diserang para kritikus dari kubu seberang.

Kasus kontroversi pembakaran oleh Banser pada bendera HTI yang kerap di sebut sebagai bendera tauhid. Atau berbagai penolakan majlis ta'lim yang  berbau Islam  ketat. Menunjukan bahwa sebagian kaki NU memang telah ikut tenggelam dalam sebuah nilai tentang radikalisme paham yang dianut.

Artinya, fanatisme nilai lokal ke-NU an ditambah ghirah berlebih terhadap semangat "nasional". Sedikit banyak berimbas pada pola paradigma beberapa stakeholder NU yang mulai tenggelam dalam radikalisasi nilai yang dianut mereka.

Bukankah itu berarti hal yang bagus, sebagai media memupuk nilai yang dianggap benar ?. Memang, tetapi perlu diingat bahwa pola pikir radikal bebas yang keluar dari batas kontrol sosial. Sangat berpotensi memicu pengaplikasian tindak radikal yang keluar dari batas norma kemanusiaan. Saling pereskusi misalnya, atau pengancaman terhadap "other" yang dianggap keluar dari jalur.

Ini sebenarnya hal lumrah sebagai organisasi formil yang punya hubungan mesra dengan pihak pemerintah, dengan aneka produk timbal balik antar keduanya. Melawan organisasi lain yang justru memosisikan diri sebagai oposisi kebijakan pemerintah. 

Belum lagi faktor pengaruh perang ideologi masa lampau. Dimana adanya NU sendiri memang sebagai benteng menjaga kebijakan semrawut dari beberapa ajaran Wahabi. 

Pertanyaan pokok, apakah NU lambat laun akan kehilangan jati diri sebagai organisasi berbasis civil society dengan pandangan tawasuth dan kei'tidalannya. Berjalan menjadi organisasi yang radikal tentang berbagai kebenaran yang dianut oleh penggiat mereka. Hingga mengaplikasikan berbagai manuver keras pada kubu minor yang memosisikan diri sebagai oposisi pemerintah.

Tanpa bermaksud menafikan tujuan NU untuk membumikan nilai Pancasila yang universalis, dengan wujud pengamanan terhadap hal yang dianggap mengancam NKRI. Hanya saja otak penulis sendiri rasanya bosan melihat perdebatan dua arah oleh penggiat NU dengan maniak Islam ketat yang tak ada habisnya. 

Kubu satu tak berhenti hentinya berdialek tentang bahaya faham Wahabi, Transnasional, atau makar organisasi bernama HTI. Sisi lain juga sama, tetap tak juga berhenti beranjak dalam pemikiran masa lalu tentang bahaya laten komunis, sekuler, liberalisme, atau bahkan anggapan kemunduran Islam.

Ini belum membicarakan isu intervensi politik praktis dalam pergolakan antar dua ormas tersebut. Pastilah otak akan semakin puyeng dengan aneka "ijtihad" yang saling menjegal antar kubu.

Bukankah lebih baik berbincang ide segar untuk memecahkan berbagai kesemrawutan yang terjadi di negeri Pertiwi. Daripada tetap sibuk berdebat, ngotot ngototan, saling caci maki kekurangan, atau bahkan saling menyesatkan.

Sulit memang, sebuah identitas dengan karakter bertolak belakang pastilah sulit untuk disatukan dalam satu meja bersama. Perdebatan tentang eksistensi agama dalam sistem kenegaraan sejak dulu memang tak henti-hentinya terdengung. Antara lebih menekankan nilai substansial agama sebagai pedoman negara, atau berupaya menonjolkan identitas agama sebagai anggapan penerapan Islam kaffah.

Ntah sampai kapan radikalisme fikir ini akan berlalu. Hingga suatu saat dapat berkolaborasi dengan sebuah pemikiran liberal yang membebaskan daya nalar untuk bergerak bermasyarakat tanpa gejolak. Dengan bingkai semangat kebersamaan yang dibalut kei'tidalan.

Bukan tidak mungkin secerah harapan kebersamaan kelak akan tampak di negeri yang serba penuh estafet penuntutan, Wallahu alam bi showab.



Lamongan, 25 Oktober 2018

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.