Tabloid Bola dan Inspirasi Santri



Seperti hukum alam, munculnya inovasi baru berdasarkan dinamika globalisasi, dengan keterbukaan informasi yang cepat. Akanlah berpotensi mematikan produk generasi lama apabila gagal bersaing merebut minat generasi. xyz. 

Ini pula yang terjadi pekan ini, bukan media sosial seperti friendster atau path. Tetapi kali ini giliran media jurnalistik cetak tabloid bola yang secara resmi gulung tikar. Hasilnya sudah terduga, banyak warganet yang berlomba memberikan viralisasi tanggapan di gawai sakti masing-masing.

Sebuah Nostalgia


Bernostalgia tentang tabloid bola sebagai tabloid  legendaris yang menjadi santapan wajib bola mania pastilah tak akan habis dikenang. Kolom rubik mendetail liga liga bergengsi sejagat yang dikumpas habis, ditambah bonus poster pemain bintang liga liga top eropa, merupakan secuil dari kenangan istimewa tabloid bola dalam upaya memanjakan para penggiat bola.

Bagi penulis sendiri, tabloid bola merupakan salah satu inspirasi mengikuti perkembangan geliat sepakbola secara mendetail kala nyantri di salah satu pesantren di sudut kota Jombang. Ditengah keterbatasan update berita telivisi yang dibatasi, dan internet yang baru mulai menjajah. Media koran dan tabloid pun menjadi santapan wajib para santri kala itu.

Meski sebenarnya terselip keogahan merogoh kocek sendiri untuk membeli tabloid tersebut. Wajar saja budgetnya terbilang cukup mahal bagi kalangan santri menengah kala itu. Jangankan rutin membeli tabloid bola, "bon bonan" warung saja terkadang numpuk beribu-ribu.

Tapi bukan santri kalau tak ngotot untuk mewujudkan rasa penasaran update tentang informasi. Ditengah kebuntuan berita bola, seringkali dari kami pun mencuri curi waktu untuk melihat laga big match pertandingan liga Eropa di warung warung luar pesantren. Aji mumpung, Kebetulan beberapa sahabat penulis kala di pesantren juga banyak yang mengidolakan Manchester United. Meskipun terkadang bersambut dengan lomba lari melawan para kamtib pondok hingga ta'zir dari  pesantren kala tertangkap.

Kembali ke memorial tabloid bola yang legendaris. Masih penulis ingat bagaimana cara mendapatkan uang cukup untuk membeli tabloid tersebut. Bersama partner sesama maniak bola, penulis kerap kali mondar mandir berkeliling kamar Ribath untuk mengumpulkan uang recehan dari para santri lain yang juga gemar menggemari media cetak.

Saat recehan terkumpul cukup, akhirnya dapatlah membeli koran Jawa pos harian dengan rubik unggulan Sportivo. Sebagai pengganti dari Tabloid bola jika budget   "peron" yang terkumpul belum cukup membeli tabloid legendaris tersebut.

Lain lagi ceritanya jika recehan yang terkumpul dari para santri  sekian banyaknya. Maka tabloid bola pun menjadi sasaran empuk untuk disantap.

Inilah letak keepikan tabloid bola yang mampu menjadi pemersatu berbagai lintas kelompok sosial. Semuanya disatukan dengan satu tujuan, ingin mengetahui perkembangan berita sepakbola, dan ingin mengoleksi poster pemain idola.

2 komentar:

Terima kasih atas masukan anda.