Perjalanan spiritual menuju tingkatan 'Muhibbin', hamba yang mencintai Allah dengan sepenuh hati seringkali dipenuhi dengan ujian yang menguji ketulusan dan keteguhan jiwa. Salah satu figur yang kisahnya melegenda dalam menghadapi cobaan tersebut adalah Syekh Ma'ruf Al Karkhi. Beliau dihadapkan pada serangkaian ujian berat dari Allah SWT yang berfungsi sebagai penentu kelayakan untuk mencapai derajat mahabbah yang didambakannya. Ujian-ujian ini tidak hanya menguji kesabarannya, tetapi juga kedalaman niatnya, terutama dalam menyikapi pujian dan celaan dunia, serta godaan syahwat yang paling halus.
Ujian pertama yang dihadapi Syekh Ma'ruf Al Karkhi adalah ketika beliau memilih untuk dicela daripada dipuji. Dalam upaya melenyapkan rasa bangga akibat sanjungan para wali, beliau melakukan tindakan mencuri pakaian di kamar ganti pemandian, sengaja agar perilakunya diketahui dan ia dihujat. Bahkan, saat ia dipukuli hingga berdarah karena disangka pencuri sejati, beliau justru merasa lega, sebab celaan itu lebih ringan baginya daripada pujian yang menggerus keikhlasan. Puncak dari pengujian ini adalah ketika beliau berulang kali diusir oleh tetangganya yang mempermainkannya, namun beliau tetap datang kembali dengan kerendahan hati yang menakjubkan, menjawab, "Aku ini seperti anjing. Pergi kalau disuruh pergi, dan datang ketika digoda dengan daging," sebuah ungkapan yang menyiratkan kepasrahan total dan tak peduli dengan harga diri di mata manusia demi kepatuhan.
Dalam mencapai derajat Muhibbin, Syekh Ma'ruf Al Karkhi mendapat ujian yang
berat dari Allah SWT sebagi pembuktian pantas lulus atau tidak.
Pertama, Syekh Ma'ruf Al Karkhi pernah dikondangkan oleh para wali tentang
derajat mahabahnya. Karena merasa lebih suka dicela daripada dipuji, akhirnya
Syekh Ma'ruf Al Karkhi pun memutuskan untuk masuk ke kamar ganti lalu mencuri
pakaian milik orang yang sedang mandi.
Syekh Ma'ruf Al Karkhi urung kabur, justru beliau berusaha agar tindakan
pencuriannya diketahui oleh orang. Semata mata tindakannya hanya agar ia dicela
orang daripada terus terusan dipuji.
Hingga akhirnya Syekh Ma'ruf Al Karkhi pun dipukuli oleh orang orang sampai
wajahnya berdarah. Karena orang orang mengira syekh Ma'ruf Al
Karkhi benar benar seorang pencuri. Meski demikian Syekh Ma'ruf justru lebih
merasa lega daripada kondisi awal yang kenyang pujian.
Akhibat tindakannya kala itu, setiap orang yang berjumpa dengan syekh
Ma'ruf pun memanggilnya dengan sebutan " Ini Pencuri Pemandian".
Kedua, suatu saat Syekh Ma'ruf Al Karkhi mendapat undangan tasyakuran dari
tetangganya. Segeralah beliau mendatangi rumah kediaman tetangganya tersebut.
Namun sesampai di sana, Syekh Ma'ruf justru diusir dengan dalih ia bukan
tercatat sebagai tamu undangan. Seketika itu beliau pulang kembali ke rumahnya.
Sesampai dirumah, Syekh Ma'ruf dikejutkan dengan seorang anak yang membawa
undangan tasyakuran tetangga yang telah mengusirnya. Segeralah pula ia kembali
lagi ke rumah tetangganya yang tasyakuran dengan dalih memenuhi undangan.
Namun disana untuk kedua kalinya Syekh Ma'ruf Al Karkhi diusir kembali,
dengan alasan yang sama. Beliau pun untuk kedua kalinya kembali lagi ke
rumahnya.
Kejadian semacam ini pun berulang ulang hingga ke empat kali. Tetangganya
yang memang aslinya sedang mempermainkan Syekh Ma'ruf pun heran dengan perangai
Syekh Ma'ruf. Ia pun memutuskan untuk bertanya tentang apa alasan yang membuat
Syekh Ma'ruf berperangai demikian.
Jawab Syekh Ma'ruf, " Aku ini seperti anjing. Pergi kalau disuruh
pergi, dan datang ketika di goda (iming iming: jawa) dengan daging".
Ketiga, Syekh Ma'ruf Al Karkhi diuji dengan di Mukasyafah mata batinnya oleh
Allah, hingga beliau diperlihatkan 40 bidadari. Ujian kali ini Syekh Ma'ruf
sedikit tidak kuasa, hingga beliau sejenak terlepas pandangannya dari Allah.
Akhibatnya, derajat Mahabah yang hampir didapat Syekh Ma'ruf Al Karkhi
pun sirna.
Karena merasa salah, syekh Ma'ruf Al Karkhi pun bertaubat Kamil. Hingga
Allah SWT pun kembali memberikan kesempatan lagi tentang ujian serupa untuk
mencapai derajat Mahabah.
Syekh Ma'ruf Al Karkhi kali ini kembali diperlihatkan bidadari. Tak
tanggung-tanggung, jumlahnya meningkat dua kali lipat. Dadi awalnya 40 bidadari
menjadi 80 bidadari yang berparas menggoda. Namun keteguhan hati Syekh Ma'ruf
Al Karkhi 80 bidadari tak mampu menjadi penghalang untuk Mahabah pada Allah.
Syekh Ma'ruf Al Karkhi pun lulus ujian, hingga mampu mencapai derajat Muhibbin.
Keteguhan hati Syekh Ma'ruf Al Karkhi diuji pada puncaknya ketika Allah membukakan mata batinnya (mukāsyafah) dan memperlihatkan godaan 40 bidadari. Meskipun sempat tergelincir dan pandangannya terlepas sejenak dari Allah, beliau segera bertaubat dengan taubat kamil. Kesempatan kedua pun diberikan, di mana Syekh Ma'ruf harus menghadapi godaan yang berlipat ganda, yaitu 80 bidadari berparas menggoda. Namun, pada ujian penentuan ini, keteguhan mahabbah beliau kepada Allah tak tergoyahkan. Keberhasilan Syekh Ma'ruf Al Karkhi dalam menaklukkan godaan terakhir ini menjadi bukti bahwa cintanya kepada Sang Pencipta jauh melampaui segala kenikmatan duniawi dan surgawi, hingga akhirnya beliau berhasil lulus dan mencapai derajat tertinggi 'Muhibbin' yang sejati.
Sumber:
Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad
Terima kasih atas masukan anda.