Kajian Al Hikam: Mengapa Harus Berdiri ketika Mahalul Qiyam ?



Pada pengajian Al Hikam kali ini (4/11/2019) kyai Djamal memfokuskan pada penjelasan perihal Fadhilah Shalawat Nabi, seiring dengan datangnya bulan mulia Maulud.

Pertama, dijelaskan beliau mengacu penjelasan kitab Mukasyafatu Qullub Al Muqorribu ila 'alamil Ghuyub (hal 63) karangan Syekh Al Ghozali.

Dijelaskan dalam suatu hadist bahwa pada suatu saat Malaikat Jibril As sedang bersama Rasul. Lalu beliau berkata, Ya Rasullullah saya pernah melihat malaikat di langit sedang duduk di atas ranjang (singgasana). Dikanan kirinya terdapat 70.000 Malaikat lain yang berbasis-baris untuk melayani malaikat yang sedang duduk di ranjang tersebut. Dari tiap-tiap nafas yang berasal dari malaikat tersebut, atas fadhal Allah diciptakanlah malaikat lain untuk melayani malaikat yang duduk di Ranjang tersebut.

Namun sekarang saya (Jibril) melihat malaikat tersebut berada di gunung qof (sebuah gunung di dunia), dan kedua sayapnya pecah (sempal; Jawa). Malaikat tersebut (yang disebut Yai Djamal dengan Malaikat Muqorrobun)  menangis. Ketika aku (Jibril) bertemu dengannya, malaikat itu pun memohon padaku, "Jibril tolong aku". Lalu aku (Jibril) pun tanya kepadanya,  "apa dodamu, hingga Allah SWT menghukumu demikian ?".

Malaikat itu pun menceritakan  penyebab yang membuatnya di murkai Allah SWT. Dikatakan bahwa sewaktu malam mi'rab ia duduk diatas ranjang. Kemudian Muhammad Saw melewati aku, namun aku tetap duduk, tak beranjak berdiri untuk menghormatinya. Akhirnya Allah SWT pun menghukum dengan mematahkan kedua sayap malaikat itu dan membuangnya di Gunung Qof.

Malaikat itu pun memintaku (Jibril) untuk memohonkan syafaat pada Allah SWT.  Aku (Jibril) pun segera melaksanakan permohonan dari malaikat tersebut. Kemudian setelah aku (Jibril ) bermunajat kepada Allah, maka Allah pun memaafkan kesalahan malaikat tersebut dengan syarat selalu membaca shalawat kepada Rasulullah Muhammad Saw. Setelah malaikat tersebut melaksanakan syarat tersebut kedua sayapnya yang pecah pun tumbuh kembali, ia pun kembali di angkat Allah ke langit.

Dari hikayat yang diceritakan Malaikat Jibril tersebut didapatlah simpulan utama bahwa Allah SWT akan menghukum hambanya yang tak menghormati Rasulullah Muhammad Saw, meski itu datang dari Malaikat Yang sudah mempunyai derajat Muqorrobun (dekat dengan Allah SWT) seperti malaikat dalam kisah diatas.

Sebab itulah ketika kita sedang membaca Shalawat Mahalul Qiyam terutama ketika membaca Asroqol Badru 'alaina, kita dituntut untuk berdiri untuk menghormati Rasulullah Muhammad Saw. Dikarenakan jika dibaca bersama, maka ruh Nabi akan datang (rawuh). Barangkali jika ruh Nabi datang lalu kita tidak berdiri maka dikhawatirkan akan seperti nasip yang menimpa malaikat Muqorrobun dalam kisah sebelumnya, Naudzu Billah.

Kyai Djamal juga memberikan pengetahuan penting bahwa seseorang atau hambanya yang derajatnya sampai dalam maqom Muqorrobun, alias didekatkan derajatnya dengan Allah SWT. Maka apabila melakukan keluputan maka akan mendapat sanksi yang berat dari Allah SWT. 

Seperti halnya Nabi Adam As yang dibuang ke bumi hanya gara gara memakan buah khuldi. Meskipun sebelumnya yang dilarang Allah adalah hanya mendekati pohon yang telah ditunjuk (Walla taqrobu hadzhi syajarah) bukan buah dari pohon sejenis yang dimakan buahnya oleh nabi Adam atas hasutan Iblis.

Ada pula Nabi Zakariya as yang diancam Allah SWT dicabut derajat kenabiannya hanya gara gara berkata "aduh" ketik digergaji kepalanya oleh bani Israil.

Sama halnya dengan kisah Nabi Yusuf yang diceritakan Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin. Dikatakan bahwa sewaktu Nabi Yusuf telah jadi raja termasyhur menggantikan raja Rayyan, ayahandanya Nabi Ya'kub As datang berkunjung. Namun sewaktu Nabi Ya'kub bertemu Nabi Yusuf, sang anak tidak berdiri untuk menghormati ayahandanya.

Hal inilah yang membuat Allah SWT murka dan bersumpah, "Demi Izzah, aku tidak akan memberikan derajat Nabi pada anak dan keturunan Yusuf". KisahNabi Yusuf ini dapat kita ambil Ibrah tentang betapa kita harus menghormati orang tua dalam segala kondisi apapun.


Bersambung..

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.