Kajian Al Hikam: Munajat Ke Delapan Ibnu Attoillah (Wasilah)

Buku Terbaru Kyai Djamal


Bagaimana aku mendekat pada-Mu dengan perantaraan kefakiran (kebutuhanku) Pada-Mu”  

“Dan bagaimana aku akan berantara kepada-Mu dengan sesuatu yang mustahil akan datang pada-Mu.”  

 (Munajat ke 8 Ibnu Attoillah)


Sedikit Penjelasan Kyai Djamal

Hikmah ini secara umum menjelaskan tentang perihal wasilah, dalam istilah lain disebut tawassul. Dalam pengertian bebas disebut sebagai jalan mencapai sebuah hal. Secara umum Tawassul itu diperintah Allah Swt, sebagaimana difirmankan dalam Surat Al Maidah ayat 35:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan(QS. Al Maidah: 35)

Melalui ayat tersebut secara global Allah SWT memerintahan untuk berwashilah. Hal ini dikuatkan juga dengan sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan Ibnu Hibban, yang artinya; “ Gunakanlah washilah dengan aku dan ahli bait kepada Allah. Karena tidak akan ditolak bertawassul kepada kami”.

Adapun pengertian washilah sendiri dijelaskan oleh Kyai Djamaluddin Ahmad dengan mengutip pengertian dari Syekh Sayyid Ali. Dikatakan bahwa Washilah adalah ; sesuatu yang dipergunakan untuk mendekat kepada orang lain.

Pengertian diatas terbilang logis, ibarat saja jika kita ingin menemui presiden tentulah membutuhkan suatu hal yang menjadi perantara untuk bertemu; butuh sebuah surat, lalu ada keperluan urgen, hingga harus menemui berbagai pihak sebagai syarat administratif pertemuan.

Sedangkan menurut Kyai Masduqi Lasem yang merupakan guru dari Kyai Djamal sendiri, dikatakan bahwa washilah adalah sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. 

Kembali Kyai Djamal menuturkan perihal washilah, bahwa oleh beliau dikatakan bahwa washilah itu adakalanya mematikan suatu benda, seperti orang sakit yang ingin sembuh lalu membaca berbagai khzib, doa, amalan demi kesembuhan, namun  orang tersebut tak kunjung sembuh. Lantas mengapa demkikian, karena sakit adalah barang lahir jadi washilahnya haruslah juga barang lahir seperti berobat ke dokter. Namun harus juga disertai munajat kepada Allah St.

Ada juga washilah yang sangat ampuh yang dapat mengabulkan suatu keinginan. Kyai Djamal menyebut amalan yang datang dari Nabi seperti tawassul melalui sebuah Troriqot. Selain itu Kyai Djamal juga memberi hikayat tentang sebuah washilah, berikut hikayatnya simak.

(Tiga Washilah Pada Rasulullah Saw)

Di zaman Rasulullah Saw pernah terjadi kekeringan yang dahsyat di Madinah. Ahirnya salah satu pendudu Madinah pun memohon kepada nabi agar merelakan diri untuk berdoa kepada Allah Swt untuk menurukan hujan.

Nabi Saw pun mengiyakan permitaan tersebut, lalu memohon kepada Allah Swt agar dikaruniai hujan. Alhasil seketika itu pula hujan mengguyur kota Madinah.

***
Pada hari ketiga usai Nabi Saw wafat. Datang orang a’robi ke makam Nabi Muhammad Saw. Lalu ia pun mengutarakan hajatnya kepada Allah Swt melalui lantaran Nabi, “ Ya Allah saya sekarang berada di samping kekasih Engkau. Tolong engkau ampuni dosa hamba. Jika Engkau tidak mengampuni maka kekasih Anda akan marah, musuh Anda akan senang, dan hamba akan rusak”.

Orang A’robi tersebut bermunajat lagi, “ Ya Allah orang-orang arab jika memerdekakan budak mereka berada di samping orang yang dicintai majikan. Sekarang saya berada di samping makam kekasih Anda. Saya ini adalah budak sedang Engkau adalah majikan. Maka merdekaanlah hamba dari Neraka.

Setelah si A’robi tersebut bermunajat, seketika itu terdengar suara yang memanggil si A’robi. “ Wahai A’robi, engkau telah dimerdekakan oleh Allah Swt dari neraka. Jika engkau tadi meminta yang lebih seperti memerdekakan semua umat islam  dari neraka, niscaya Allah Swt akan mengaubulkan pula”.
**
Ada orang buta datang kepada Nabi Saw agar menyembuhkan matanya yang buta. Nabi pun mengabulkan permintaannya. Seketika itu Nabi menyuruh orang tersebut untuk berwudhu dan memohon kepada Allah Swt agar menyembuhan mata butanya dengan wasilah Rasulullah. 

Setelah orang tersebut melaksanakan apa yang dimandatkan oleh Nabi. Tiba-tiba hal ajaib terjadi, penyakit orang buta tersebut sembuh dan mampu untuk melihat kembali.


Pertanyaannya, apakah munajat harus kepada Nabi ?.

Kyai Djamal memberi jawaban “Tidak”, washilah juga bisa dilakuan pada ahlu bait Nabi seperti pada Syekh Abdul Qadir Al Jailani. Bahkan ada kalanya tawassul / washilah dengan menggunakan catatan amal yang bersih suci. Namun washilah kategori ini tidak bisa digunakan untuk menuju musyahadah. Karena memang perihal amal itu sulit lepas dari penyakit yang melingkupinya.

Adapun washilah adakalanya dengan merendahkan diri beraitan dengan kekurangan diri. Persis seperti yang dilakukan oleh Ibnu Attoillah Al Iskandari. Jika bertawasul kerap kali beliau mengucap, “ Ya Allah hamba ini fakir, sedang engau maha kaya dan kuasa. Jadi tolong berilah hamba yang tidak punya apa-apa ini.. “

Tawassul bi Faqir bukan hanya dilakukan oleh Ibnu Attoillah saja, para sufi memang kerap bertawassul dengan teknik seperti itu. Sebut saja Syekh Abu Hasan As Syadhili ketika ditanyai oleh Syekh Abdus salam terkait bagaimana cara bertawassul-nya. Beliau menjawab, “ Aku bertawassul dengan cara fakir”.

Ada hikayat lagi dari Kyai Djamal perihal wasilah, kali ini hikayat sufi bernama Ibnu Rumi, simak.

( Sang Sufi Ibnu Rumi)

Di suatu daerah ada seorang bernama Ibnu Rumi yang bertempat tinggal di Irak. Suatu hari di Irak terjadi paceklik berkepanjangan. Ibnu Rumi dan istrina serta anaknya pun tidak makan sealama tiga hari. Pada hari keempat si istri menyarankan pada suaminya Ibnu Rumi untuk mencari kerja di pasar, saat itu memang pasar menjadi pusat dari segala peradaban.

Keesokan harinya Ibnu Rumi pun pergi berangkat, namun bukanlah pasar yang ia tuju melainkan sebuah masjid yang jarang didatangi jama’ah. Disana Ibnu Rumi melakukan sholat Dhuha, setelah itu Ibnu Rumi membaca surat Ikhlas terus menerus bahkan sampai sore hari tiba. Jumlah surat Ikhlas yang ia baca pun sebanya sebelas ribu kali. 

Setelah itu tak lupa Ibnu Rumi bermunajat kepada Allah Swt, “ Ya Allah, jika saya pulang sekarang maka istri dan anak hamba pasti sedih karena pulang tak membawa apa-apa”. 

“Okelah saya pulang ba’da Isya’ saja”, gumamnya dalam hati.

Bahkan pasca Isya’ pun Ibnu Rumi tak kunjung beranjak dari tempat munajatnya. Hingga ia memutusannya tepat pada tengah malam. Sesampainya di pintu rumah ia terkejut mendengar suara istri dan anaknya sangat bergembira padahal awalnya mereka sangat sedih. Karena bingung ia pun memutusan masuk rumah pelan-pelan agar ia dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Usai Ibnu Rumi masuk rumah dan menemui keluarganya, segeralah istrinya memberitahunya tentang apa yang terjadi.

 “ Tadi ba’da maghrib ada seorang pemuda yang datang dan mengaku menjadi utusan majikan engkau. Lalu ia memberi kami 1000 dirham”. Papar sang istri pada Ibnu Rumi.

Mendengar cerita istrinya, Ibnu Rumi pun gembira tak karuan. Segeralah ia melakukan sujud syukur pada Allah Swt. Tak lupa juga ia melakukan shalat tengah malam sebagai tambahan ungkapan syukur pada Allah Swt.

Setelah shalat Ibnu Rumi pun tidur. Dalam tidurnya ia bermimpi seolah-olah bertemu Allah Swt, lalu Allah berfirman, “ Ibnu Rumi, dosamu telah aku maafkan. Derajatmu telah aku angkat setinggi-tingginya. Rizkiku telah ku limpahkan padamu. Apa ada lagi keinginan engkau ?”.

“ Tidak Ya Robbi, aku hanya ingin mati agar cepat-cepat bertemu Engkau tuhanku”, jawabnya.

Allah Swt pun berfirman, “ Hidup maupun mati Aku yang menentukan. Umurmu tinggal Sembilan hari”.

Setelah itu sontak Ibnu Rumi terbangun dari tidurnya dan merenungi apa yang akan terjadi. Alhasil sejak saat itu pula ia mempersiapkan diri untuk meningkatkan taraf level amal dan ibadahnya, termasuk silaturrahim kepada sanak dan para gurunya. 

Pada hari kesembilan beliau  Ibnu Rumi pun wafat tepat di imam sholat. Ibnu Rumi wafat dengan status Khusnul Khatiamah, kembali kepada Allah Swt.


Catatan:
Dimana tulisan asli sebenarnya dibuat pada:

Tanggal : 12 April  2010
Tempat : PP. Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Sumber Pengampu : KH. Moh. Djamaluddin Ahmad
Peresume : Rizal Nanda Maghfiroh

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.