-->

Saat Gusdur dinasehati Kyai Djalil Mustaqim

Rizal Nanda Maghfiroh
0

Diceritakan oleh Kyai Haji Djamaluddin ahmad, bahwab suatu saat Gusdur beserta keluarganya yang terdiri dari Istri dan Ibunya sowan pada KH. Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung. Dalam perbincangan Yai Djalil melarang Gusdur pulang ke Jakarta setelah dari ndalem. Beliau diminta menginap di Tulungagung atau pulang ke Jombang.

Setelah dirasa cukup, mereka berpamitan kepada Yai Djalil dan diantar oleh Yai Jalil sampai depan pintu seraya berpesan pada Gus nyeleneh itu "Gus, yang sabar ya..." tutur Yai Djalil pada Gusdur. Akhirnya Gusdur memutuskan untuk pulang ke Jombang sedangkan keluarganya pulang ke Jakarta.

Ternyata kenapa Yai Djalil melarang Gusdur pulang ke Jakarta itu bukanlah tanpa alasan. Kendaraan yang ditumpangi istri, ibu beserta sopirnya itu kecelakaan. mereka semua dilarikan ke RS, dengan berbagai luka yang mendera. sopirnya meninggal, Ibunya luka yang menyebabkan meninggal pula tak lama kemudian, serta istri beliau, HJ. Sinta Nuriyah harus mengalami kelumpuhan sampai sekarang akibat kecelakaan tersebut.

Kesimpulan penting dalam hikayat tersebut adalah tentang maklumat seorang guru memang yang terbaik. Apalagi jika guru tersebut adalah seorang guru Mursyid seperti KH Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung.

Tentu. Pengalaman ini menunjukkan betapa tajamnya mata batin seorang guru mursyid, seperti KH. Abdul Djalil Mustaqim, yang mampu mengetahui peristiwa gaib atau yang akan datang (mukasyāfah) dan memberikan isyarat penyelamatan yang terbaik bagi muridnya. Larangan yang sekilas terlihat sederhana untuk tidak kembali ke Jakarta pada saat itu, ternyata adalah peringatan ilahi yang menyelamatkan Gus Dur dari musibah besar yang menimpa keluarganya, menegaskan bahwa kepatuhan pada maklumat seorang guru yang sudah mencapai derajat kewalian adalah wujud kepatuhan yang akan membawa kemaslahatan dan keselamatan hakiki.
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Terima kasih atas masukan anda.

Posting Komentar (0)