HIMMABA Tak Lekang Oleh Waktu





“ Kemarin saat ini esok selamanya, HIMMABA ..”. Sebenarnya merupakan sebuah penggalan lirik lagu Sepanjang Hidup milik Bomerang yang pernah ngehits di Komisariat HIMMABA Sumbersarian. Yang pada akhirnya berakhir sebagai tema Gathnas 2013 di Pulau Sempu sebagaimana diatas tadi.

Ya, tema itu terbilang pas sekali  bagi alumni HIMMABA yang pernah berkecimpung aktif di kubangan “biru muda”. Sudah pasti akan merasakan geliat rindu akan kemesraan  yang melekat pada HIMMABA. Ntah kebersamaan Ngopi together sebagai media nyepik (Baca: Mengkader) Mahasiswa Baru (MABA). Menjual diri di stand Gedung A UIN Maliki tiap sore usai PKPBA (perkulian khusus pembelajaran bahasa arab). Atau ketika berbantah-bantahan sambil mengebrak lantai dengan draf ketika sidang konferensi HIMMABA yang tanpa batas sampai tarhim subuh berkumandang. Ini membuktikan bahwa HIMMABA memang tak lekang oleh waktu.

Sebenarnya tulisan ini diracik diksinya ketika penulis secara tak sengaja mengetahui kabar pelaksanaan Konfercab HIMMABA (Dulu: Kongres) yang akan menandai era baru jejak HIMMABA di tahun-tahun berikutnya. Rasanya tak terasa HIMMABA sudah begitu lama eksis dengan aneka gebrakan sejak dilahirkan pada 13 Desember 1983. Ntah sampai kapan keeksisan ini akan selalu terjaga dalam bingkai almamater biru muda. 

Doa dan Harapan

Celoteh kata Ini bukan sekedar  nostalgia belaka, meski membincang HIMMABA tak akan bosan-bosannya untuk dibahas. Namun lebih dari itu, pastilah terselip harapan dan doa pada HIMMABA. Ekspektasi berlebih agar HIMMABA dapat menjadi organisasi yang jaya dengan guyuran warna emas yang melebur dengan tinta biru muda. Seperti yang kerap diceritakan para senior penulis ketika masih aktif di HIMMABA semacam; Cak Muhib, Cak Daus, Cak Masyhur,Cak Kronto, Cak Toni, dan Cak-Cak yang lain. Dimana dikatakan bahwa HIMMABA dulu merupakan organisasi mahasiswa yang diperhitungkan keeksisannya dalam kancah OMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus). Terutama di UIN Maliki Malang yang menjadi saksi utama napak tilas HIMMABA Tempo dulu.

Mungkin bukan hanya penulis saja yang berharap akan kejayaan kembali HIMMABA. Para alumni lain pastilah akan merasakan hal sama ketika mengingat tentang perjuangan pahit manis ngabdi di HIMMABA. Baik itu alumni yang masih tersambung aktif dengan pengurus terkini, atau justru datang dari alumni yang mati suri komunikasinya. Ntah memang karena kesibukan pekerjaan yang menjerat diri, atau memang karena tak ada upaya dari pengurus untuk tetap menyambung silaturrahmi yang pada akhirnya menyebabkan renggangnya ikatan komunikasi, apalah.

Yang pasti, bukan rahasia lagi bagi organisaasi relawan yang ikhlas-ikhlasan melakukan pengabdian semacam HIMMABA sendiri. Hasilnya sudah tentu akan memunculkan problem utama yang kerap menghampiri organisasi tersebut, dalam hal ini adalah terkait pengoptimalan sumber pendanaan yang diperlukan demi menghidupi eksistensi organisasi di mata publik. Termasuk HIMMABA sendiri yang memang terkenal lihai membuat program yang bercorak event organizer.

Bagaimana tidak jago, tercatat berbagai event kegiatan pernah digoreskan dalam rangkaian perjalanan HIMMABA. Mulai dari event serius semacam; Bimbingan masuk kampus (TIR), diklat kepemimpinan (el-Omt, BTL), diklat jurnalistik (DIKJUR), pelatihan pembuatan makalah, bedah buku, diskusi dan kajian, seminar sehari, maupun pengajian umum. Atau bahkan program semi santai semacam; Rihlah Gathering sebagai ajang sambung dulur, temu kader, temu alumni, atau bakti sosial. Bukankah itu merupakan sebuah penegas bahwa HIMMABA sangat jago membuat event organizer, baik itu di tingkat pengurus komisariat maupun pengurus cabang.  

Lantas apa kaitanya dengan perihal pendanaan, sudah tentu banyakya event organizer pasti akan berdampak pada kebutuhan biaya operasional yang semakin menumpuk. Yang mungkin saja berbanding terbalik dengan sumber pendanaan organisasi HIMMABA yang tebilang buta peta tiap berganti kepengurusan. Apalagi resuffle pergantian pengurus dilakukan tiap setahun sekali dengan dalih memperkuat kaderisasi per-angkatan.

Permasalahan tersebut sebenarnya hal klasik termasuk era penulis. selama berkecimpung di kepengusan baik tingkat Komisariat atau cabang (era penulis bernama pusat) sebagai sekretaris, penulis sendiri pun hanya memahami bahwa pendanaan HIMMABA terbagi menjadi dua; dana stagtis (sumber iuran stakeholder HIMMABA) dan dana tagtis (Donatur dan Sponsorship). Itu paling tidak yang tertera dalam PD-PRT HIMMABA, mungkin sampai sekarang. Usaha mewujudkan sumber dana permanen pun kerap kali hanya menjadi wacana kilat yang terselip dalam perbincangan warung kopi. Sisanya mungkin berjalan pelan satu langkah demi langkah yang perlahan memudar ghirah mewujudkannya.

Hasilnya sama, tiap menjelang serbuan kegiatan kepengurusan yang tak ada habisnya, para pengurus pun dibuat bingung tak kahuhan. Hasilnya opsi alternatif pun dipilih, menghubungi para alumni untuk dimintai donatur seikhlasnya untuk keberlangsungan acara.  

Apa Kabar Alumni HIMMABA

Memang benar bahwa alumni sebuah organisasi menyandang peran sebagai kekuatan. Artinya adanya alumni dapat menjadikan sebuah organisasi semakin meningkat eksistensinya. Baik itu segi label identitas organisasi, proses kaderisasi sebuah organisasi, atau bahkan dapat membantu pendanaan suatu organisasi.

Nah, redaksi terakhir dalam paragraf sebelumnya mungkinlah merupakan sebuah hal yang sangat jelas ketampakannya bagi HIMMABA akan segi manfaat posisi alumni. Ini sebenarnya fenomena organisasi yang realistis, bahwa alumni tetap menyandang sebuah tanggung jawab moril tentang eksistensi suatu organisasi, termasuk HIMMABA pula. Pertanyaan yang muncul tiap kepengurusan, sampai kapan HIMMABA akan tetap mengandalkan alumni sebagai garda depan mengembangkan modal organisasi ?. Yang pada akhirnya habis terkikis keperluan aneka program yang berbau event organizer.

Ntahlah sampai kapan plot ini akan berakhir happy ending dalam klasiknya kisah bernama HIMMABA. Yang pasti efek samping dari budaya “mbakrin” ke alumni yang terus membudaya di HIMMABA, termasuk era penulis pula. Pada akhirnya memunculkan stigma negatif yang sama. “ HIMMABA nyedek’i senior, pembina, lan alumni pas wayahe butuh dana tok ( HIMMABA mendekati senior, pembina, dan alumni ketika butuh dana saja) “, diksi yang kerap kali keluar dari mulut senior yang kerap menghajar beberapa kepengurusan.

Diakui atau tidak hal diatas memang telah membudaya di HIMMABA tiap gonta ganti kepengurusan. Sedulur Taufiq Slow selaku senior penulis di HIMMABA dalam salah satu kesempatan bahkan pernah mengutarakan sebuah opini.

" Organisasi yang kita hidupkan dan bela mati-matian hari ini, bisa jadi generasi di kemudian hari lupa dan tak pernah mensilaturrahimi. karena kita tidak berposisi dan kurang berpotensi menambah saldo organisasi. Disisi lain kawan kita yang hanya ikut diklat dan pelengkap formasi malah di dekati dan dimintai nasehat sana sini, karena bernasib kebalikan dari kita. Sebaiknya kita tidak kecewa, karena kemungkinan apa yang dilakukan generasi berikutnya adalah bibit warisan generasi pendahulunya, yang tidak lain kita ".

Opini sedulur Taufiq sebagaimana diatas dapat ditarik satu kesimpulan lepas bahwa pola komunikasi beberapa kepengurusan di HIMMABA terhadap para alumni masih terdapat kecenderungan sisi materialistik. Meski sebenarnya tradisi ini sangat lumrah sekali bagi organisasi kemahasiswaan yang bersifat sosial masyarakat, menanggalkan diri dari urusan politik kepentingan kelompok. 

Sebenarnya tak ada salahnya memakai alumni sebagai sumber pendanaan organisasi. Toh berkat adanya program “mbakrin” juga sedikit banyak akan menjadi ajang penyambung lidah agenda antara pengurus selaku pelaku aktif organisasi dengan alumni. Namun sebagai organisasi yang diharapkan menuju ke arah yang dinamis perkembangannya, pastilah HIMMABA tertuntut untuk memberikan umpan balik (feedback) tentang keputusan yang diambil kepengurusan untuk menjadikan alumni sebagai basis kas organisasi.

Artinya wajib bagi pelaku aktif HIMMABA membuktikan diri kepada para alumni tentang sebuah evolusi dinamis organisasi bernama HIMMABA menuju arah yang lebih baik. Baik program kerjanya yang bersifat membangun karaker anggota, bukan sekedar event organizer yang kerap kali hanya dipandang sebagai sarana merealisasikan tanggungan program kerja. Atau bahkan ghirah “wani perih” stakeholder organisasi dalam menghidupi HIMMABA. Termasuk senantiasa menjalin komunikasi aktif pada para alumni, apalagi para alumni HIMMABA terbilang banyak yang menjadi orang (Baca: menjadi orang penting di bidangnya). sehingga dogma sindiran “moro pas wayahe butuh tok” bukan lagi terngiang di telinga tiap kepengurusan.

Terakhir, semoga HIMMABA lebih megilan seiring dengan perubahan zaman yang mengharuskan stakeholder HIMMABA untuk berbenah pula. Termasuk pelaku aktif HIMMABA yang menjadi ujung tombak biru muda di pusaran malang raya. Akhir kata Salamun Qaulan Min Rabbir Rahim.


Lamongan, 01 September 2019

Rizal Nanda M (HIMMABA angkatan 2011)






Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.