Kajian Al Hikam: Hijab Allah Pada Orang Shalih

Foto: Pustaka Al Muhibbin


Pengajian Al Hikam edisi kali ini (Senin, 07/10/2019) membahas tentang hijab Allah (tutup) atau dalam bahasa arab disebut Satrah. Dimana KH Djamaluddin Ahmad menyebut bahwa hijab (tutup) Allah terhadap maksiat seorang hamba terbagi menjadi dua macam:

Pertama, Syatrah ‘an ma’asyi, yang mempunyai arti bahwa Allah Swt menutup seorang dari perbuatan dosa sehingga seorang tersebut terjaga dari sebuah dosa atau perbuatan maksiat. 
Jenis yang pertama ini merupakan derajat yang kerap diinginkan oleh para kalangan Khosoh, dalam artian orang ahli hakekat. Bagi kelompok ini terjaga dari maksiat dimata Allah Swt lebih utama meski pada kasus-kasus tetentu harus menanggung dosa dari anggapan sesama manusia sendiri.

Kedua, adalah Syatrah fi Ma’asyi, yang mengandung arti Allah menutup kesalahan hambanya dari pandangan sesamanya, sehingga tidak menjadi aib bagi kalangan umum atas ketampakan maksiat tersebut. Adapun jenis kedua inilah yang kerap dijumpai dari seseorang pada umumnya yang pastinya tidak menginginkan aib kemaksiatan yang dilakukannya diketahui oleh orang lain. 

Dalam kaca mata tasawuf jenis kedua ini umumnya berlaku bagi hamba yang masih berada di maqom syari’at. Belum naik ke level maqom hakekat yang lebih mementingkan penilaian Allah swt dibanding anggapan sesamanya.

Kemudian, pada kesempatan kali ini KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad juga sedikit menyertakan beberapa hikayat penunjang perihal Syatrah, khususnya kategori pertama yang bernilai tinggi untuk dijumpai.

Hikayat: Sultan Murad dan Jenazah Yang Tak diurus.

Suatu ketika dikala Sultan Murad ke-IV sedang berpatroli di suatu daerah beliau berjumpa dengan kejadian yang unik. Dimana Sultan Murad menjumpai jenazah seseorang laki-laki yang dibiarkan tergeletak dan tidak ada seseorang pun yang berkenan untuk merawat jenazah, memandikan, mengkafani,  mensholati, hingga mengubur. Karena heran sultan Murad yang menyamar pun bertanya pada warga sekitar tentang identitas jenazah tersebut, warga pun menyebut jenazah tersebut awalnya adalah seorang Kafir Zindiq yang gemar meminum khamr dan mendatangi para pelacur.

Awalnya warga setempat tak mau merawat Jenazah tersebut, meski Sultan Murad meminta pada warga untuk memperlakukan jenazah tersebut. Namun setelah menjelaskan bahwa jenazah tersebut merupakan salah satu umat Nabi Muhammad Saw yang pastilah wajib untuk dirawat, maka para warga pun mengiyakan perkataan Sultan Murad, lalu membawa jenazah tersebut ke rumah kediamannya untuk segera dimandikan.

Sesampai dirumah kediaman, keluarlah sang istri dari laki-laki tersebut. Karena merasa ingin tahu kejadian sebenarnya, Sultan Murad pun memutuskan bertanya langsung kepada wanita tersebut perihal kejadian sebenarnya yang menimpa suaminya hingga para warga menisbatkan dogma kafir Zindiq pada laki-laki tersebut.

Sultan Murad pun terkejut dengan cerita panjang lebar dari wanita tersebut. Dikatakan olehnya bahwa suaminya memang benar tiap malam selalu pergi ke lapak penjual khamr dan menebas (membeli) habis semua khamr yang masih tersedia dilapak. Namun uniknya Khamr yang dibeli tersebut seteguk pun tak pernah diminum oleh suaminya. Justru air khamr tersebut pun dibuang habis ke toilet (jamban).

Wanita tersebut kemudian mengutarakan apa alasan suaminya melakukan hal tersebut berdasar pengakuan suaminya. Ternyata alasan utama dibalik perbuatan tersebut adalah keinginan suaminya untuk mengurangi dosa penjual dan peminum khamr. Dengan ditebas habis khamr yang tersisa maka pastilah stok khamr yang akan dipakai untuk mabuk akan menipis.

Sultan Murad merasa heran bukan kepalang atas perilaku laki-laki tersebut yang melakukan amal mulia secara rahasia, meski harus merelakan diri didogma negatif warga setempat atas perbuatan tersurat yang telah ia lakukan. Lalu Sultan Murad pun meminta pada wanita tersebut untuk kembali melanjutkan ceritanya.

Wanita tersebut kembali menceritakan tingkah laku suaminya yang suka keluar larut malam. Kali ini tujuannya adalah lokalisasi prostitusi para pelacur. Dalam kaca mata umum pastilah orang akan menganggap bahwa laki-laki tersebut akan melakukan tindakan perzinaan. Namun yang terjadi sebaliknya, laki-laki tersebut kembali melakukan amal sirri (rahasia). Setiap pelacur yang dijumpainya ditanyai berapa hasil uang dari profesi pelacur dalam satu malam. Termasuk hasil penghasilan satu bulan penuh. Laki-laki tersebut pun menyanggupi untuk membayar satu bulan penuh sebanding penghasilan menjadi pelacur dengan syarat menyuruh si pelacur untuk menghentikan sejenak perbuatannya selama satu bulan.  

Terkait apa motif dibalik kejadian tersebut, ternyata alasan utama dibalik perbuatan tersebut adalah keinginan suaminya untuk mengurangi dosa umat Nabi Muhammad Saw yang menjadi pelacur. Tanpa harus menjadi amal Jahr yang tampak dalam pandangan warga setempat, Tutur wanita pada Sultan Murad berdasarkan pengakuan suaminya selama hidup.

“ Apa engkau tidak takut dianggap kafir oleh para warga atas tindakanmu. Nanti engkau bisa-bisa tak diurus jenazahmu ketika wafat”, kata sang istri kepada suaminya tempo hari.

Lelaki tersebut justru tersenyum ke arah istrinya tanda agar tak usah mengkhawatirkan dirinya. “ Nanti ketika aku wafat. Sultan Murad sendirilah yang akan mensholati jenazahku, bersama para ulama dan auliya”, turur lelaki tersebut pada istrinya.

Kembali ke cerita awal, Sultan Murad pun menangis kemudian mengutarakan identitas aslinya pada si wanita bahwa dirinya merupakan seorang penguasa. Lalu memuji atas amal sirri dari suami wanita tersebut selama hidup. Si Wanita pun terkejutnya bukan kepalang bahwa yang didepannya adalah seorang Sultan, persis seperti perkataan dari suaminya selama hidup. 

Akhir cerita, Sultan Murad pun mengundang para Ulama, Ahli Sufi, serta para auliya untuk mengajak bersama-sama mensholati jenazah lelaki alim tersebut. Kesimpulan dari hikayat ini adalah bahwa lelaki yang meninggal tersebut adalah seorang hamba yang dikaruniai Allah Swt sebuah maqom Syatrah minal ma’asyi (Hijab dari maksiat), sehingga atas fadhalnya Allah Swt tindak perilaku orang tersebut akan dibebaskan dari sebuah kemaksiatan. 




Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.