Kajian Al Hikam: Rahasia Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al Jailani


Dalam pengajian Al Hikam minggu ini (Senin, 7/10/2019) KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad tak lupa mengutarakan sebuah maklumat penting, 

“ Nik pingin duwe anak hebat, latihen jujur. Bapake ngawitono jujur, Ibuke ngawitono jujur, banjur latihen anake ben jujur” (Kalau ingin dikaruniai anak hebat, latihlah untuk bersikap jujur. Bapaknya harus memulai untuk jujur, Ibunya juga harus jujur, lalu anaknya harus dilatih untuk berperilaku jujur).

Pesan Kyai Djamal diatas mengisyaratkan tentang urgensi jujur dalam sebuah proses pendidikan. Perilaku Jujur sendiri merupakan sebuah hal yang harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, mengingat lawan dari jujur (Kadzib) merupakan sebuah kemakisatan yang mudah melebur dalam segala ruang sosial.

Hikayat: Rahasia Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al Jailani

Dalam pengajian ini Kyai Djamal menisbatkan maklumatnya pada seorang ‘abdullah bernama Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang merupakan waliyullah hebat dengan kejujuran yang luar biasa sejak kecil. Ini realistis karena sejak kecil beliau sudah dibiasakan untuk berperilaku jujur oleh bapak dan Ibnuya. Kedua orang tuanya sebenarnya juga merupakan orang alim yang punya hubungan nasap dengan Rasulullah. 

Ayahnya ( Syekh Abu Musa Sholeh Janki Jausad ) merupakan keturunan Rasulullah ke-13 dari jalur Sayyidina Hasan bin Ali, sedang ibunya (Fatimah) adalah keturunan ke-16 dari jalur Sayyidina Husain bin Ali. Semasa hidup Syekh Abdul Qadir kecil selalu dinasihati ibunya untuk membiasakan berbuat jujur kapan pun, dimana pun, dan dalam kondisi apa pun. 

Suatu saat ketika Syekh Abdul Qadir muda (18 Tahun) hendak merantau pencarian ilmunya dari Makkah ke Iraq (Tahun 470 H), beliau meminta restu pada ibunya tentang rencana perantauannya. Sang Ibunda pun merestui anaknya, lalu memberi bekal padanya uang 40 dinar yang dimasukkan ke dalam sebuah kantong (Literatur lain menyebut uang pemberian tersebut sebanyak 40 dirham dengan dijahit dilengan baju syekh Abdul Qadir).

Dalam perjalanan bersama para kabilah, Syekh Abdul Qadir muda dihadang para penyamun liar. Ketua dari penyamun tersebut adalah Qais bin Malik yang kejam dengan kebiasaan membunuh target apabila melawan permintaannya.

Semua orang dalam kabilah tersebut ditanya dengan paksa untuk menyerakan harta benda berharganya. Namun kesemuanya tak ada yang mengaku memberitahukan hartanya. Baru ketika diancam akan dibunuh satu demi satu diantara mereka pun mengaku dimana mereka menyembunyikan harta benda berharganya.

Lain halnya dengan Syekh Abdul Qadir Muda yang saat itu berumur 18 tahun. Ketika beliau ditanya tentang keberadaan benda berharga yang dibawanya, beliau langsung berkata dengan jujur tentang uang pemberian ibunya tersebut. Sontak para penyamun yang mengintrogasi Syekh Abdul Qadir pun heran atas sikap polos dan jujur dari pemuda tersebut. Wajar saja selama mereka berprofesi sebagai penyamun, tak pernah diantara mereka menemukan target sasaran yang mengatakan dengan jujur harta yang dibawanya.

Diantara mereka pun sontak membawa Syekh Abdul Qadir muda kepada Qais bin Malik selaku ketua penyamun. Segeralah ia menayakan apa alasan Syekh Abdul Qadir muda berkata jujur ketika dipalak. Syekh Abdul Qadir pun menceritakan panjang lebar tentang nasihat Ibunya untuk jujur dimana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun. “ Kalau saya bohong saya takut menghianati ibu saya”, kata Syekh Abdul Qadir.

Sontak Qais bin Malik pun menjerit dan merobek robek bajunya seraya mengucap keras. 
“ Ya Robbi anak muda ini tidak pernah bohong hanya gara-gara takut menghianati ibunya. Tapi selama ini saya selalu bohong dan tidak takut menghianati Engkau. Mulai detik ini saya taubat dihadapan pemuda jujur ini”.

Atas Fadhalnya Allah swt, Seketika itu pula Qais bin Malik pun bertaubat dari profesi ketua penyamun. Keputusannya untuk bertaubat lalu diikuti pula oleh para pengikutnya.

Hikayat Syekh Abdul Qadir Al Jailani ini menjadi penguat tentang fadhal Allah swt yang menutup Syekh Abdul Qadir dari segala maksiat (dalam hal ini sifat dusta), sehingga tindak laku beliau selalu perilaku Siddq bi Qaul (Jujur dalam ucapan).



Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.