Kajian Al Hikam: Kejujuran Umar bin Abdul Aziz Sebagai Khalifah



Selain Jujur dalam ucapan, ada juga yang namanya Jujur dalam perbuatan (Siddq bi af’al). Kali ini KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad kembali menisbatkannya pada suatu hikayat seorang Khalifah Daulah Umaiyyah yang terkenal jujur, ia bernama Umar bin Abdul Aziz.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz sendiri ternyata merupakan cicit dari Sayyidina Umar bin Khattab ra yang merupakan salah satu Khulafa urrasyidin. Dimana Sayydina Umar bin Khattab mempunyai putra bernama Asim bin Umar yang pada akhirnya dinikahkan dengan seorang anak penjual susu eceran bernama Zainab. Meski terlahir dari keluarga miskin Zaenab mempunyai pekerti yang luhur, hal ini tampak dalam peristiwa kala Zaenab tak menyetujui rencana ibunya mengoplos susu eceran dengan air supaya untung. Kala itu Zaenab berdalih meski Khalifah Umar tidak mengetahui perilaku ibunya, tapi Allah maha mengetahui semua perbuatan yang dilakukan ibunya.

Sontak Sayyidina Umar yang kala itu sedang berpatroli kagum dengan sifat alim anak penjual susu tersebut. Inilah yang menjadi sebab Sayyidina Umar bin Khattab memilih Zaenab sebagai menantu anak beliau bernama Asim bin Umar. Hingga pada akhirnya sepasang suami istri ini mempunyai putri bernama Laila binti Asim (Ibnu Asim) yang mana nanti akan menikah dengan Abdul Aziz bin marwan. Kemudian dari Laila inilah lahirlah cicit Sayyidina Umar bin Khatab bernama Umar bin Abdul Aziz.

Sayyidina Umar bin Abdul Aziz sebelum menjadi khalifah merupakan seorang penguasaha kaya raya. Tiap bulan beliau mendapatkan hasil usaha kurang lebih sebanyak 50.000 dinar. Namun setelah diangkat menjadi Khalifah Daulah Umaiyyah, Umar bin Abdul Aziz seluruh nominal tersebut didermakan kepada rakyat, beserta harta kekayaan beliau lainnya. Bahkan kepunyaan beliau hanya menyisahkan satu baju gamis saja. Sebab itulah semenjak jadi Khalifah justru beliau semakin kurus, namun tak mengurangi semangat kejujuran dalam memimpin negeri.

Bahkan menjelang beliau diangkat sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz sempat menawari anaknya dua pilihan, jika ingin bersamanya maka harus mengembalikan harta benda pemberiannya. Atau mempersilahkan anaknya tetap membawa harta tersebut, namun harus pergi meninggalkan ayahnya. Sang anak pun memilih pilihan pertama untuk tinggal bersama ayahnya.

Begitu juga istrinya yang dikasih dua pilihan, tetap hidup bersama atau mempersilahkan untuk pisah (cerai). Alasannya karena Umar bin Abdul Aziz saat mejadi khalifah akan fokus ke negara, jadi besar kemungkinan akan jarang tidur malam bersama sang istri. Namun Sang istri tetap memilih untuk berjuang hidup bersama, dan merelakan suaminya untuk berjuang menjadi khalifah.

‘Amat (pembantu) Umar bin Abdul Aziz pun juga tak lepas dari tawaran dua pilihan, antara tetap bertahan atau mempersilahkan mencari tuan baru. Alasannya Umar bin Abdul Aziz akan tak sempat mensejahterakan ‘amatnya ketika menjadi Khalifah.

Tatkala menjadi khalifah bahkan kejujuran tindakan Umar bin Abdul Aziz tak pernah surut. Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga selalu totalitas dalam pengabdiannya selama dua tahun lebih. Beliau tak pernah bolos (bersantai-santai) dalam jam dinas, bahkan beliau justru sering pulang larut malam untuk mengurus tugas negara.

Ada seebuah kejadian menarik yang menjadi penegas kejujuran tindakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pernah suatu ketika salah satu anaknya mengunjungi beliau di kantor negara pada malam hari. Sang anak hendak membicarakan kepentingan keluarga, mengingat ayahanda sering tak pulang ke rumah untuk mengurusi kepentingan negara. Saat itu media penerangan kantor yang ditempati Umar bin Abdul Aziz hanyalah lampu minyak tanah.
Saat sang anak hendak mengutarakan maksud kedatangannya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyetop perbincangan anaknya sejenak, lalu memadamkan lampu minyak yang sebelumnya menjadi satu-satunya media penerang kantor.

Sang anak pun bingung dengan tindakan ayahnya, lalu memutuskan untuk bertanya pada ayahandanya. “Wahai ayah, mengapa engkau malah mematikan satu-satunya media penerangan ini sehingga kantor ini menjadi gelap ? ”.

Umar bin Abdul Aziz pun menjelaskan tindakannya pada anaknya, “ Anakku, penerangan lampu ini menggunakan minyak milik negara. Sedangkan engkau hendak mengajakku membicarakan kepentingan keluarga. Oleh karena itu itu aku padamkan lampu ini. Aku tak ingin menghianati negara untuk memakai barang negara demi kepentingan keluara. Kalau engkau berkenan aku akan pulang mengambil minyak milik keluarga kita untuk dijadikan sumber penerangan lampu ini”.

Keluhuran perilaku Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi sebuah penegas tentang fadhal Allah yang diberikan kepada beliau. Bahwa Allah menutup rapat-rapat diri beliau dari kemaksiatan, dalam hal ini sifat Kadzib (Bohong) dalam tingkah laku. Bahkan salah satu sufi terkenal Salman Al Farisi memasukkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah Urrasydin kelima, setelah Sayyidina Abu Bakar ra, Sayyidina Umar bin Khattab ra, Sayyidina Ustman bin Affan ra, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.


Sumber:
Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad (Senin, 7 Oktober 2019)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.